Peranan Akidah Bagi Ketahanan Nasional

Islam merupakan nama terhadap agama yang terdiri dari unsur keyakinan akidah-iman, ajaran ibadah, akhlak dan muamalah yang sempurna bersumber dari al-Quran dan Sunnah berhubungan dengan semua sisi kehidupan manusia dunia sampai akhirat.

Share :
Peranan Akidah Bagi Ketahanan Nasional
Artikel

Oleh : Dr. Tengku Amri Fatmi Anziz, Lc, MA


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis bangsa yang berisikan keuletan dan ketangguhan dalam menghadapi serta mengatasi segala bentuk ancaman, gangguan atau hambatan dari dalam dan dari luar negeri.

Kemudian bagaimana iman, akidah dan keyakinan Islam menjadi pengaruh dalam hal ketahanan nasional tersebut? 

Pertama, kita akan melihat bagaimana fungsi daripada akidah pada pribadi seorang muslim. 

Kalau seandainya kita berjumpa dengan seseorang yang tidak kita kenal, maka kita tidak tahu cara harus bersikap dan memperlakukannya. Namun pada saat dia menyatakan bahwasanya dirinya adalah seorang muslim. Dalam kondisi ini, kita langsung menyadari bahwa dia berafiliasi dan bersaudara dengan jutaan manusia dan jutaan muslimin yang lain.

Ketika seseorang mengaku bahwa dirinya seorang muslim, maka dia jelas pola pikirnya, pola hidupnya, dan pola tindakannya. Karena seorang muslim tidak bisa sembarangan apabila dia memiliki iman dan akidah. 

Keimanan dan akidahnya seorang mukmin sudah diuji dalam sejarah dan kebenarannya, bahwasanya dia akan tunduk pada Zat yang Maha Agung, Allah subhanahu wata'ala.

Maka setiap keyakinan seseorang, belum tentu langsung dijadikan sebuah akidah, kecuali pada saat keyakinan tersebut sudah melandasi tindakan seseorang.

Oleh karenanya dalam bahasa Arab, keyakinan dikatakan sebagai akidah saat seseorang meyakini dan merasakan sesuatu sampai ke tahap menggerakkan segenap perasaannya dan mampu mengarahkan tindakannya. Akidah bagi muslim adalah penggerak internal atas segala tindakannya.

Dalam terminologi Islam, akidah juga disebut dengan iman. Iman yang secara bahasa bermakna membenarkan, yaitu membenarkan segala yang dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengakuinya dengan sepenuh hati sebagai pedoman hidup.

Orang yang telah membenarkan ini disebut Mukmin. Keyakinan dalam diri seseorang kadang boleh jadi salah atau benar, maka iman adalah akidah yang diyakini seseorang tanpa ragu yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, dibawakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah terbukti dan teruji kebenarannya.

Islam merupakan nama terhadap agama yang terdiri dari unsur keyakinan akidah-iman, ajaran ibadah, akhlak dan muamalah yang sempurna bersumber dari al-Quran dan Sunnah berhubungan dengan semua sisi kehidupan manusia dunia sampai akhirat.

Fungsi Akidah pada Individu

Pada saat kita berjumpa seorang yang tidak kita kenal, dia menyebut dirinya sebagai seorang muslim, mukmin yang berkomitmen dengan ajaran Islam, maka tersingkap rahasia siapa dia, apa keyakinannya, bagaimana ibadahnya, apa yang tidak ia lakukan dan apa yang wajib ia lakukan, bagaimana akhlaknya, apa komitmen dan tujuan hidupnya, ia memiliki pedoman hidup yang telah teruji kebenaran dan efektifitasnya dalam sejarah. 

Dia berafiliasi dan bergabung dengan ratusan juta saudaranya yang lain di negeri ini memiliki kesamaan ajaran dan pedoman hidup. Dia bukan allien, tapi pribadi yang bisa menyatu bersaudara dengan jutaan bahkan dua miliar penduduk bumi.

Adapun orang yang tidak meyakini akidah agama, maka inilah orang misterius yang tidak memiliki pedoman hidup. Hal keji dan nista menurut ratusan juta orang beragama bagi dia bisa jadi hal disukai. Visi-misi hidupnya bisa bertolak belakang dengan ratusan juta orang yang tinggal dalam negara ini. 

Tanpa akidah tanpa agama, tidak ada jaminan pola hidup, pola pikir dan pola tindakan. Tanpa pedoman, cenderung onar. Akidah dan Iman juga menjadikan seseorang bertindak tidak lagi atas dasar kepentingan/maslahat sempit dan sementara.

Tidak lagi berbuat demi tujuan keuntungan pribadi, tapi ia akan bertindak dan berlaku atas dasar kebenaran yang dituntut Allah subhanahu wata'ala dan kapentingan kebanyakan manusia.

Inilah prinsip pengorbanan. Prinsip siap berkorban adalah nilai akhlak tinggi yang hanya diajarkan dalam agama yang benar. Ini dasar kepahlawanan yang telah mengasas terwujudnya negeri ini. Dalam sejarah semua agama diketemukan prinsip pengorbanan dengan sesuatu yang berharga yang dimiliki manusia demi memuja sesuatu yang tinggi dan agung. 

Prinsip ini bertolak belakang dengan prinsip keuntungan, manfaat, dan kepentingan yang terdapat pada hewan. Karena maslahat dan kepentingan adalah motif tindakan hewani. Dalam kehidupan manusia keuntungan, kepentingan dan manfaat adalah dasar prinsip politik, ekonomi. Adapun pengorbanan adalah prinsip dasar agama dan akhlak.

Berbuat baik demi pihak lain walau menyusahkan diri adalah pancaran keyakinan kuat terhadap hal yang mulia yang tidak dilakukan oleh hewan. 

Perbedaan tindakan manusiawi dengan hewan terletak pada kemampuan melakukan tindakan atas dasar keyakinan sesuatu yang agung di luar batas maslahat dan kepentingan sementara.

Apa untungnya bagi Teungku Chik Di Tiro, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teungku Chik Di Tunong, lama berjuang dan menderita tanpa mengenyam kemerdekaan dari Belanda sedikit pun? Namun tetap tidak menyerah pada Belanda sampai nafas terakhir! 

Kalau Cuma maslahat hidup bagi mereka dan kepentingan diri semata, bekerja sama dengan penjajah jauh lebih menguntungkan diri mereka dari melawan sampai nafas terakhir. 

Tapi, mereka punya akidah, iman, dan siap berkorban demi akidah itu, dan rumusan ini tidak bisa dijabar dengan angka matematis. Bahwa kepahlawanan adalah sisi unik kemanusiaan yang beritikad beriman. Inilah yang ditegaskan Allah dalam AlQuran, artinya sebagai berikut.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujuraat[49]: 15).