Moderasi Beragama Perspektif Al-Qur’an

“Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?” (QS. Yunus/10: 99).

Share :
Moderasi Beragama Perspektif Al-Qur’an
Artikel

Oleh : Prof. Dr. KH. Darwish Hude, MA


Jakarta,www.istiqlal.or.id - Allah subhanahu wata'ala menciptakan makhluk di bumi ini sangat beragam. Dari jenis tetumbuhan, mukhtalifan alwanuh (aneka macam warnanya), mukhtalifan ukuluh (aneka ragam rasanya), dan dari hewan ada yang berjalan melata dengan perutnya, berjalan dengan dua kaki, empat kaki, bahkan lebih daripada itu, menunjukkan keanekaan jenis ciptaan Allah subhanahu wata'ala. 

Begitu pula manusia diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dengan perbedaan bentuk wajah, warna kulit, bahasa, adat istiadat, dan keyakinan agama. Kemajemukan tersebut adalah sebuah keniscayaan dari kehendak Allah Yang Maha Kuasa. 

Dalam hal keyakinan agama, Allah subhanahu wata'ala dengan tegas menyatakan bahwa seandainya Allah menghendaki dapat saja membuat keyakinan seluruh manusia seragam dengan satu pola, tetapi hal itu tak dikehendaki-Nya. Karena, Allah ingin menguji siapa yang suka memaksakan kehendak kepada sesamanya. 

Artinya : “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?” (QS. Yunus/10: 99).

Pertanyaan model ini dikenal dengan istilah lil-inkari, yaitu pertanyaan dalam bentuk pengingkaran. Memaksa manusia agar beriman adalah hal yang tak dikehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala. 

Secara spesifik dijelaskan di dalam Surah al-Baqarah/2 ayat 256 berikut :

Artinya : “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Dakwah memang diperlukan –dan harus– tetapi harus dengan cara-cara yang baik, dengan hikmah, dengan nasihat yang menyentuh kalbu, dan kalaupun harus berdiskusi hingga berdebat, itupun dengan cara-cara yang ahsan. 

Menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sangat moderat, tidak berlebih-lebihan, dan juga tidak berkekurangan. Ia berada pada posisi tawazun, i’tidal, dan ‘adalah (berkeseimbangan dan berkeadilan). 

Beberapa contoh kongkret yang menjadi indikator dapat disebutkan sebagai berikut :

1. Berprikehidupan di dunia dan akhirat yang seimbang

Salah satu di antara dua tempat itu tak boleh ada yang terabaikan, sehingga kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat dapat diraih, sebagai-mana yang dikehendaki dalam doa yang kita panjatkan sehari-hari. Karena itu, Allah berfirman :

Artinya : “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash/28: 77).

2. Bersikap Moderat

Dalam soal bersedekah pun, yang nyata-nyata sebuah kebaikan universal, Al-Qur’an mengajarkan untuk senantiasa bersikap moderat, tidak terlalu royal tetapi tidak juga terlampau kikir. 

Mengambil posisi moderat di antara keduanya adalah yang paling baik. Mari kita simak firman Allah :

Artinya : “Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya,” (QS. Al-Furqan/25: 67).

3. Hubungan vertikal dan horizontalnya seimbang. Hablum minallah terjaga dengan baik, dan hablum minannas-nya juga terlaksana dengan indah. 

Hanya mereka yang menjaga kedua hubungan itu dengan seimbang yang terbebas dari predikat kehinaan. Surat Ali ‘Imran/3 ayat 112 menjelaskan hal tersebut.

Artinya : “Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka ….” (QS. Ali ‘Imran/3: 112).

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nanti di akhirat ada sekelompok manusia yang dikenal dengan kelompok al-muflisun (orang-orang bangkrut), mereka yang hubungan interpersonalnya dengan sesama manusia tidak dijaga dengan baik. 

Hak-hak sosial orang lain terabaikan oleh ulahnya meskipun kadang-kadang berdalih atas nama agama. Pahala ibadahnya habis digunakan untuk membayarkan orang yang pernah dianiaya, diganggu, dilecehkan, difitnah lewat media sosial yang dosanya berlipat-lipat ganda, sehingga mereka disebut sebagai orang bangkrut (muflis). Wal-‘iyadzu billah.

4.Berdakwah dengan bijak, persuasif, dengan cara-cara terbaik (al-ahsan), bukan dengan cara-cara yang kasar dan brutal. 

Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhati kasar maka pastilah semua orang akan menjauh dari sekeliling beliau. 

Akan tetapi, beliau sangat moderat dalam menjalankan dakwahnya sehingga dalam waktu yang relatif singkat memiliki banyak follower dari berbagai kalangan.

Artinya : “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl/16: 125).

Berdakwah dengan cara persuasif, lembut, dan elegan adalah karakteristik dakwah Al-Qur’an. Sekelas Fir’aun saja yang nyata-nyata telah melampaui batas dan menyatakan dirinya sebagai Tuhan “Ana rabbukumul a’la”, oleh Allah subhanahu wata'ala masih meminta Musa dan Harun alaihumassalam menyadarkannya dengan kalimat-kalimat lembut. 

Cermati Surah Thaha/20 ayat 43 - 44 : “Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. Bahwa dalam siatuasi tertentu boleh dengan cara-cara lebih tegas tentu sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


5. Meyakini dengan teguh kebenaran agama yang dianut, tetapi tak pernah melecehkan atau memaki simbol-simbol yang disakralkan orang lain yang berbeda dengan keyakinannya. 

Allah dengan tegas melarang pelecehan simbol-simbol agama lain, dengan firmannya dalam Surah al-An’am/6 ayat 108 :

Artinya: “Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-An’am/6: 108).

Dengan demikian istilah ummatan wasathan yang disebutkan di dalam Surah Al-Baqarah/2 ayat 143 adalah sangat tepat. Berbagai pemaknaan terhadap istilah ini oleh para mufassir, namun secara komprehensif dapat dijelaskan bahwa ummatan wasathan adalah umat yang bersikap, berpikiran, dan berperilaku moderat, adil, seimbang, dan proporsional, antara kepentingan material dan spiritual, akal dan wahyu, ketuhanan dan kemanusiaan, individu dan kelompok, masa lalu dan masa depan, realisme dan idealisme, dan orientasi duniawi dan ukhrawi. 

Terlalu cenderung ke kiri akan melahirkan ekstremitas, dan terlalu miring ke kanan akan melahirkan liberalitas, yang keduanya tak dikehendaki oleh istilah ummatan wasathan. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Related Posts: