Menghindari Malapetaka Lisan Menuju Selamat Dunia dan Akhirat

Tak ada yang sia-sia seluruh yang diciptakan Allah subhanahu wata'ala. Kata-kata ini benar karena seluruh keberadaan di jagat ini memiliki maksud dan tujuan, entah diketahui manusia maupun tidak.

Share :
Menghindari Malapetaka Lisan Menuju Selamat Dunia dan Akhirat
Berita

Oleh : KH. A. Rofiuddin Mahfudz, M.Ag

Jakarta, www.istiqlal.or.id-Tak ada yang sia-sia seluruh yang diciptakan Allah subhanahu wata'ala. Kata-kata ini benar karena seluruh keberadaan di jagat ini memiliki  maksud dan tujuan, entah diketahui manusia maupun tidak. 

Termasuk dalam hal ini seluruh anggota badan manusia, seperti mata, hidung, telinga, lisan, kaki, tangan, dan organ-organ luar dan dalam, serta sel-sel yang tak terhitung jumlahnya.

Semua itu merupakan nikmat besar. Nikmat yang tak mungkin bisa dibalas secara sepadan, kecuali sekadar mensyukurinya, baik melalui lisan maupun perbuatan. 

Bersyukur lewat perkataan bisa dilakukan dengan mengucapkan hamdalah atau kalimat puji-pujian lainnya. Sementara bersyukur lewat tindakan akan tercermin dari kualitas perbuatan, apakah sudah baik, bermanfaat, atau sebaliknya?

Di antara semua anggota badan itu yang paling krusial adalah lisan. Lisan merupakan perangkat di dalam tubuh manusia yang bisa menimbulkan manfaat, namun sekaligus mudarat yang besar bila tak benar penggunaannya. Karena itu ada pepatah Arab mengatakan, salâmatul insan fî hifdhil lisân (keselamatan seseorang tergantung pada lisannya). 

Melalui kata-kata, seseorang bisa menolong orang lain. Dan lewat kata-kata pula seseorang bisa menimbulkan kerugian tak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.

Karena saking krusialnya, Islam bahkan hanya memberi dua pilihan terkait fungsi lisan, yaitu untuk berkata yang baik atau diam saja. 

Seperti bunyi hadits riwayat Imam al-Bukhari, yang artinya sebagai berikut.

"Siapa yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam." (HR. Imam al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendahuluinya dengan mengungkapkan keimanan sebelum memperingatkan tentangbagaimana sebaiknya lisan digunakan. Keimanan adalah hal mendasar bagi umat Islam. Ini menunjukkan bahwa urusan lisan bukan urusan main-main. 

Hadits Imam al-Bukhari yang sudah disebutkan sebelumnya, bisa dipahami sebaliknya (mafhum mukhalafah) bahwa orang-orang tak bisa berkata baik maka patut dipertanyakan kualitas keimanannya kepada Allah subhanahu wata'ala dan hari akhir. Ini menarik karena lisan ternyata berkaitan dengan teologi.

Kenapa dihubungkan dengan keimanan kepada Allah subhanahu wata'ala dan hari akhirat? 

Hal tersebut tentang pesan bahwa segala ucapan yang dikeluarkan manusia sejatinya selalu dalam pengawasan Allah subhanahu wata'ala. Ucapan itu juga mengandung pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia melainkan pula di akhirat. 

Orang yang berbicara sembrono, tanpa mempertimbangkan dampak buruknya, mengindikasikan pengabaian terhadap keyakinan bahwa Allah subhanahu wata'ala selalu hadir menyaksikan dan hari pembalasan pasti akan datang.

Allah subhanahu wata'ala juga mengutus malaikat khusus untuk mengawasi setiap ucapan kita. Allah subhanahu wata'ala berfirman pada QS. Qaf [50]: 18, artinya sebagai berikut.

"Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]:18)

Banyak hal tidak baik (kotor) yang dapat muncul dari lisan. Seperti ghibah atau yang biasa dikenal dengan membicarakan keburukan orang lain. 

Ghibah mungkin bagi sebagian orang asyik sebagai kembang obrolan, namun ia mempertaruhkan reputasi orang lain, memupuk kebencian, serta merusak kepercayaan dan kehormatan orang lain. 

Contoh lain adalah fitnah, yakni sengaja menebar berita tak benar dengan maksud merugikan pihak yang difitnah. Fitnah umumnya berujung adu domba, hingga pertengkaran bahkan pembunuhan. Sifat ini sangat dibenci Islam. 

Fitnah masuk dalam kategori kebohongan namun dalam level yang lebih menyakitkan. Inilah relevansi manusia dikaruniai akal sehat, agar ia berpikir terhadap setiap hal yang ia lakukan atau ucapkan, serta berpikir tentang nilai kebaikan dalam kata-kata yang akan kita ucapkan, juga dampak yang bakal timbul setelah ucapan itu dilontarkan. 

Hal tersebut penting dicatat, supaya kesalahan tak berlipat ganda karena lisan manusia yang tak terjaga. Politisi yang sering mengingkari janji itu buruk, tapi akan lebih buruk lagi bila ia juga tak pandai menjaga lisannya. 

Pejabat yang gemar berbohong itu buruk namun akan lebih buruk lagi bila ia juga pintar berbicara, dan seterusnya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya sebagai berikut. 

"Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafiq yang pintar berbicara." (HR. At-Tabrani)

Di zaman modern ini, ucapan atau ujaran tak semata muncul dari mulut, tapi juga bisa dari status Facebook, cuitan di Twitter, meme di Instagram, konten video, dan lain sebagainya. 

Media sosial juga menjadi ajang ramai-ramai berbuat ghibah, fitnah, tebar kebohongan, provokasi kebencian, bahkan sampai ancaman fisik yang membahayakan. 

Makna lisan pun meluas, mencakup pula perangkat-perangkat di dunia maya yang secara nyata juga mewakili lisan kita. Dampak yang ditimbulkannya pun sama, mulai dari adu domba, tercorengnya martabat orang lain, sampai bisa perang saudara.

Karena itu, kita seyogianya hati-hati berucap atau menulis sesuatu di media sosial. Berpikir dan ber-tabayyun (klarifikasi) menjadi sikap yang wajib dilakukan untuk menjamin bahwa apa yang kita lakukan bernilai maslahat, atau sekurang-kurangnya tidak menimbulkan mudarat. 

Sekali lagi, ingatlah bahwa Allah subhanahu wata'ala mengutus malaikat khusus untuk mengawasi ucapan kita, baik hasil lisan kita maupun ketikan jari-jari kita di media sosial. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala dalam QS Qaf [50]: 18 yang artinya sebagai berikut.

"Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]:18) (FAJR)


Humas dan Media Masjid Istiqlal

Tags :

Related Posts: