Mendidik Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia

Sebagai seorang anak dan warga negara, kita memiliki tanggung jawab kepada kedua orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam mendidik generasi muda yang unggul untuk masa depan Indonesia.

Share :
Mendidik Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia
Berita

Oleh: Prof. Dr. KH. Abuddin Nata, MA

Jakarta, www.istiqlwww.istiqlal.or.id-Sebagai seorang anak dan warga negara, kita memiliki tanggung jawab kepada kedua orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam mendidik generasi muda yang unggul untuk masa depan Indonesia yang lebih maju, sejajar, bahkan melampaui keunggulan bangsa-bangsa lain di dunia. 

Hal tersebut merupakan tugas suci dan mulia dari Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. Al-Tahrim [66]: 6).

Imam Ahmad Mushtafa al-Maraghy dalam Tafsirnya, Tafsir al-Maraghy, Jilid X (hl. 162) menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan sebagai berikut:

Artinya : “Wahai orang-orang yang telah membenarkan dan meyakini adanya Allah dan rasul-Nya, hendaknya satu kelompok memberi tahu kelompok yang lain tentang sesuatu yang dapat mencegah dari api neraka serta mencegah tergilincir ke dalamnya, yaitu menta’ati Allah, mengikuti perintah dan menjauhi laranganNya, dan hendaknya mendidik keluarganya agar beramal berupa ketaatan kepada Allah yang dapat membentengi dirinya dari api neraka, dan menghindarkan mereka dari yang demikian itu dengan nasihat dan pendidikan akhlak mulia.”

Selanjutnya dalam berbagai hadisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita, tentang tugas dan kewajiban kedua orang tua kepada anaknya yang akan tumbuh menjadi generasi muda sebagai penerus yang akan mengisi dan mengelola negara agar terus berkembang dan makin maju. 

Dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Ibn al-Najjar, sebagaimana dikutip Ahmad al-Hasyimi Bek, dalam Mukhtar al-Ahaadits al-Nabawiyah (1948:39 dan 79), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:

Artinya : “Dari kewajiban orang tua terhadap anaknya ada tiga yaitu memberi nama yang baik, mengajarkan Al-Qur’an, dan menikahkannya apabila sudah dewasa”.

Dalam hadisnya yang serupa, namun diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:

Artinya : “Dari Rasulullullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya kewajiban kedua orang tua terhadap anaknya adalah; mengajarkan Al-Qur’an, memberi nama dan akhlak yang baik, berenang, dan memanah, dan hendaknya jangan memberi nafkah/rezeki kepadanya kecuali yang baik”.

Perintah mendidik anak dan generasi muda itu juga merupakan amanah dari ayat yang pertama diturunkan Allah subhanahu wata'ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu (QS. Al-‘Alaq (96):15), yang berkaitan dengan berbagai komponen pendidikan. 

Misalnya, dalam QS. Al-‘Alaq (96):15 terdapat komponen falsafahnya, yaitu bismi rabbika: dengan menyebut nama Allah, metodenya yaitu Iqra: membaca dalam arti luas, pendidiknya ialah Allah subhanahu wata'ala Yang memiliki kompetensi akademik, pedagogik, kepribadian dan sosial, dan peserta didiknya yaiti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berakhlak mulia.

Berikutnya juga terdapat kurikulum yang dipakai yaitu dengan menggunakan maa lam ya’lam: segala sesuatu yang belum diketahui, dan teknologinya bi al-Qalam: alat rekam, alat menyimpan dan sebagainya.

Dari penjabaran tersebut kita ketauhi bahwssannya perintah membaca dalam ayat tersebut mengandung makna yang luas. Yaitu selain mengandung arti membaca seperti biasa, juga berarti melakukan riset dan kajian melalui observasi, wawancara, angket, studi dokumentasi, rihlah ilmiah (perjalanan jauh untuk menuntut ilmu) dan sebagainya. 

Objek yang dibaca atau dikaji juga amat luas, yakni selain mengkaji ayat-ayat Allah ayat al-kauniyah, al-tanziliyah, dan qauliyah, sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an yang menghasilkan beragam ilmu agama.


Tak tertinggal juga ayat-ayat al-kauniyah, atau alam jagat raya, yang diantaranya tumbuh-tumbuhan, binatang, tata surya, air, udara, tanah, batu-batuan, mineral dan sebagainya, yang menghasilkan ilmu alam (sains), maupun ayat-ayat al-insaniyah, atau diartikan sebagai perilaku manusia, yang meliputi perilaku sosial, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya, yang menghasilkan rumpun ilmu-ilmu sosial. 

Semua macam dan cabang ilmu ini wajib kita pelajari dan kita ajarkan kepada generasi muda agar ada yang jadi ulama, teknokrat, pengembang masyarakat, desainer, dan lain sebagainya.

Manfaat Membina Generasi Muda yang Unggul

Membina generasi muda yang unggul bagi kemajuan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Allah, adalah amat penting karena beberapa alasan. 

Pertama, bahwa paradigma baru tentang kemajuan suatu bangsa saat ini tidak lagi mengandalkan semata-mata pada kekayaan sumber daya alam (SDA), melainkan yang terpenting adalah sumber daya manusia (SDM), karena bermanfaat untuk menolong dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. 

Bukti empiris menunjukkan tentang Jepang serta bangsa-bangsa yang sumber daya alam negaranya amat terbatas, namun bangsa tersebut maju, karena sumber daya manusianya yang unggul. 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu hadisnya Riwayat Muslim, Nasai, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah radhiallahu anhu mengingatkan, "al-mukmin al-qawiyyu khairun wa ahabbu ila Allah min al-mukmin al-dhaif."

Artinya: "Seorang mukmin yang kuat (unggul baik dari segi fisik, intelektual, keterampilan dan pengalamannya) lebih baik dan lebih disukai daripada seorang mukmin yang lemah, karena mukmin yang lemah akan menjadi beban bukan hanya pada dirinya, tetapi jadi beban masyarakat dan orang lain."

Kedua, bahwa generasi muda saat ini adalah pemimpin di masa depan. "Syubbana al-yaum rijal al-ghadd: Pemuda masa sekarang adalah pemimpin di masa depan." Dengan demikian dapat diduga keras, apabila pemuda di masa sekarang lemah baik secara rohaniah, mental spiritual, dan akhlaknya, maupun intelektual, keterampilan dan fisiknya, maka mereka tidak akan sanggup memikul beban dan tugas memakmurkan dan memajukan negara, dalam situasi tantangan yang dihadapi makin berat. 

Yaitu suatu keadaan di mana saat ini kita hidup di era global, milenial, era 4.0, dan era 5.0 yang hanya dapat diatasi oleh mereka yang berilmu, memiliki keahlian, berwawasan luas, keterampilan, berakhlak mulia, menguasai teknologi, berfikir tingkat tinggi, serta kemampuan membangun kolaborasi dengan masyarakat global (global competencies).

Ketiga, riset dari Bank Dunia sebagaimana dikutip Kementrian Keuangan dalam tulisannya: “Menuju Indonesia Maju melalui SDM Unggul”, Kompas, Senin, 10 Agustus (2019:6) bahwa kualitas SDM merupakan penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan penentu keberhasilan untuk mengatasi kemiskinan. 

SDM unggul merupakan kunci dalam menentukan kemajuan bangsa. Tidak ada suatu negeri di dunia yang bisa maju, tanpa didukung oleh SDM yang berkualitas. 

Hal tersebut sejalan dengan pendapat K.H. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden RI dalam tulisannya, Strategi Penanggulangan Kemiskinan, yang mengatakan, perlunya memperluas akses pendidikan untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mencegah kemiskinan antar generasi. 

Guna melaksanakan amanat mendidik generasi untuk masa depan Indonesia itu, terdapat sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya sebagai berikut. 

1. Beri Bekal Pendidikan

Pertama, memberikan bekal pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan zaman di mana anak muda itu akan hidup.

Zaman saat ini adalah zaman yang penuh persaingan, semua proses kehidupan berbasis teknologi digital yang makin canggih.

Generasi muda yang akan sukses di masa sekarang dan yang akan datang selain mereka yang berilmu, memiliki keahlian, berwawasan luas, keterampilan, berakhlak mulia, menguasai teknologi, berfikir tingkat tinggi, serta kemampuan membangun kolaborasi dengan masyarakat global (global competencies). 

Dalam Peta Jalan Pendidikan Indonesia Tahun 2020-2035 dikatakan, bahwa generasi unggul yang akan dibangun adalah generasi yang Pancasilais yang memiliki profil beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

2. Ikutserta Atasi Masalah Pendidikan

Kedua, perlu ikut serta mengatasi berbagai masalah pendidikan, karena sebagamaimana diamanatkan dalam Bab IV, Pasal 5, 6, 7, 8 dan 9, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan, bahwa pendidikan menjadi hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat, pemerintah dan pemerintah daerah. 

Di antara permasalahan pendidikan yang perlu segera diatasi adalah terkait dengan mutu, tenaga pendidik/ guru dan sarana prasarana, menjadikan pendidikan sebagai pemerata (the great equalizer), dan perekat sosial bangsa, mobilitas vertikal dalam mengatasi kesenjangan sosial, serta menyiapkan generasi yang unggul di pergaulan global. 

Kesadaran atas keunggulan di pergaulan global itu tetap harus berpangkal pada jati diri lokal, sekolah, terutama di desa, sebagai akar identitas seseorang. 

Sekolah adalah jendela utama perluasan wawasan anak desa menjadi anak kota, yang kemudian menjadi anak yang berwawasan regional dan global, serta membenahi aspek-aspek yang berhubungan dengan standarisasi, penilaian, akuntabilitas, perbaikan sekolah, guru, dan kepimpinan pendidikan, dukungan masyarakat dan pembiayaan.

3. Buat Solusi untuk Memudahkan Generasi Muda dalam Belajar

Ketiga, perlu membantu langkah-langkah, upaya-upaya serta program yang tengah diupayakan oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo pernah berpesan kepada Mendikbud Nadiem Makarim: “Buatlah pendidikan kita fleksibel, simple dan tidak “as usual” serta mengaplikasikan teknologi pada sistem pendidikan kita agar terjadi lompatan dalam kualitas SDM kita. 

Dalam kaitan ini kita perlu mengembangkan pendidikan yang sesuai dengan jiwa anak muda, yaitu pendidikan yang ramah, humanis, menyenangkan, membangun kegemaran berfikir (mindfull learning), dan memberi makna bagi kehidupannya (meaningfull learning), dan memberikan peluang kepada anak-anak untuk mengekspresikan bakat, dan minatnya, serta berbagai kecerdasan yang dimilikinya secara utuh. 

Yaitu kecerdasaan intelektual-matematik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan linguistik, kecerdasan spasial, kecerdasan intra dan interpersonal, kecerdasan estetika, dan kecerdasan naturalistik, serta kemampuan kognitif, afektif dan psikomotoriknya. 

Sesuai dengan firman Allah subhanahu wata'ala dalam Q.S. al-Nahl [16]: 78,

Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”. (Q.S. al-Nahl [16]: 78).

4. Dukung Tercapainya Pendidikan Agama yang Kokoh dan Efektif

Keempat, membantu tercapainya pendidikan agama yang kokoh dan efektif dalam rangka membentuk manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

Yaitu pendidikan agama yang dari segi isi dan metode penyampaiannya menarik, aktual, mencerahkan dan membantu generasi muda dalam menghadapi masalah psikologis yang dihadapinya sebagai akibat dari persaingan hidup yang amat ketat, membentengi mereka dari pengaruh lingkungan yang buruk, penggunaan teknologi yang tidak terkendali, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas dan sebagainya. 

Selain itu perlu pula diberikan wawasan keagamaan yang wasathiyah (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan syumuliyah (komprehensif), sehingga mereka terhindar dari hasutan pahampaham dan aliran yang merugikan masa depannya. 

Hal ini perlu diwaspadai, karena berbagai ajakan dan hasutan yang merugikan itu dengan mudah dapat dijumpai melalui media massa. Kita perlu memberikan paham agama yang wasathiyah dan rahmatan lil alamin. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. al-Anbiya [21]: 107,

Artinya : “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS. al-Anbiya [21]: 107).

Selain itu terdapat juga firman Allah pada QS. Al-Baqarah [2]: 143, yang artinya sebagai berikut.

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. al-Baqarah [2]: 143).

Dengan empat langkah strategis tersebut di atas, yakni memberikan pendidikan yang sesuai kebutuhan generasi muda sesuai zamannya, ikut serta mengatasi berbagai masalah pendidikan dan membantu tercapainya program pemerintah, dan mengupayakan pendidikan agama yang kokoh dengan membina iman, takwa dan akhlak mulia yang efektif, menarik, dan problem solver, serta berwawasan tawasuth, tasamuh dan rahmatan lil alamiin, diharapkan kita dapat mendidik generasi muda yang unggul untuk masa depan Indonesia yang lebih maju. 

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata'ala memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga kita dapat melaksanakan ajaranNya dalam mendidik generasi muda untuk masa depan Indonesia yang lebih maju dalam rangka ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala. (FAJR)

Humas dan Media Masjid Istiqlal

Tags :

Related Posts: