Mencetak Muslim yang Bertanggung Jawab

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran [3]: 102).

Share :
Mencetak Muslim yang Bertanggung Jawab
Berita

oleh Kombes Pol (Purn) Dr. H. Muh. Yahya Agil, MM.

Jakarta, www.istiqlal.or.id-Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 102, artinya sebagai berikut.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran [3]: 102).

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

Seorang Muslim adalah orang yang berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan hanya menyembah dan meminta pertolongan kepada-Nya terhadap segala yang ada di langit dan bumi. 

Islam merupakan agama yang mengajarkan kepada umat manusia bahwa untuk menjadi Muslim tidak ada unsur pemaksaan.

Dalam artian, masuk Islam haruslah dengan pilihan sendiri, dari dorongan hati yang paling dalam. Karena itu siapapun yang memaksa manusia untuk masuk Islam, tidak bisa dibenarkan.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 256, artinya sebagai berikut. "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat." (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Asbabun nuzul atau sebab turun ayat diatas terkait dengan seorang sahabat yang dulunya beragama Yahudi. Ia bukan hanya sudah menjadi Muslim, tapi juga menjalani hidup sesuai dengan ajaran Islam dan ia rasakan kenikmatan sebagai seorang Muslim. 

Karenanya ia berusaha agar anaknya yang sudah dewasa juga masuk Islam. Ia pun mengajak, menasehati, membujuk sampai memerintah agar anaknya itu masuk Islam.

Namun anaknya tetap tidak mau, sampai akhirnya ia memaksa anaknya itu untuk masuk Islam. Ketika sudah sampai pada tingkat pemaksaan, maka turunlah ayat ini yang melarang kaum Muslimin memaksa orang kafir untuk masuk agama Islam, meskipun anaknya sendiri.

Namun, ketika seseorang sudah menyatakan diri masuk kedalam Islam, ia sebenarnya bukan dipaksa. Tetapi dituntut untuk disiplin dalam Islam. Manusia diciptakan Allah subhanahu wata'ala mempunyai dua potensi, potensi positif dan negatif. Kedua potensi ini selalu berjalan seiring selama hayat di kandung badan. 

Namun pada akhirnya sangat tergantung dari faktor internal dan eksternal mana yang paling mendominasi. Dua potensi karakter tersebut adalah fitrah manusia yang tidak mungkin dapat dihilangkan sepanjang hayat. 

Karakter positif itu mendorong manusia ke arah ketakwaan dan kebahagiaan, sedangkan karakter negatif mengarahkan manusia kearah fujur dan prilaku tidak terpuji yang pada akhirnya akan disesali. 

Disisi lain bahwa fitrah manusia adalah makhluk yang mulia dan dimuliakan. Kemuliaan tersebut ditandai dengan status manusia sebagai khalifah, wakil Allah subhanahu wata'ala di bumi. 

Sebagai ‘Abid (pengabdi dan pelayan Allah) dan sebagai Musta’mir yang punya tanggung jawab menyemarakkan bumi. Ketiga fungsi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. 

Akan tetapi perlu dipahami, bahwa ketiga status itu baru merupakan potensi yang memerlukan bimbingan dan didikan. Kalau tidak terdidik dengan baik maka manusia akan menjadi makhluk yang paling hina dan sesat, bahkan lebih rendah dari hewan sekalipun. 

Allah subhanahu wata'ala sebagai Maha Pendidik telah mengajarkan dan mendidik manusia melalui Al-Qur’an sebagai pedoman bagi hidup manusia. Di dalam Al-Qur’an ditemukan bermacam model bagaimana Allah subhanahu wata'ala mendidik manusia. 

Dari sekian banyak model yang ada, diantaranya adalah model perintah dan larangan (amar ma’ruf nahi munkar).

Kaum Muslim yang Berbahagia

Sebagai seorang muslim bisa mencapai kebahagiaannya, ketika setidaknya mereka memiliki lima tanggung jawab, diantaranya sebagai berikut.

1. Menerima Seluruh Ayat Al-Qur'an

Setiap muslim wajib beriman kepada Al-Qur’an sebagai kitab suci yang asli dan menerima seluruh ayat didalam AlQur’an baik muatannya itu disenangi atau tidak, sehingga membuat seorang muslim mau memenuhi apa yang menjadi tuntutan didalamnya. 

Kaum muslimin diperingatkan agar tidak seperti orang-orang Yahudi yang beriman pada satu ayat, lalu kufur pada ayat lainnya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah/2 : 85, artinya sebagai berikut.

"Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab  (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah/2 : 85).

2. Berhukum pada Ketentuan Islam

Setiap muslim atau mukmin dituntut untuk menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya. 

Misalnya ia mau menikah, maka seorang lelaki harus menikah dengan wanita, bukan lelaki menikah dengan lelaki, atau wanita dengan wanita. 

Bahkan, Islam mengatur tidak hanya lelaki menikah dengan wanita, tapi dianjurkan menikah dengan wanita muslimah bukan dengan orang kafir.

Selanjutnya, bila ia mencari nafkah, maka mencarinya harus dengan cara yang halal, bukan menghalalkan segala cara, dan demikianlah seterusnya. Allah subhanahu wata'ala berfirman pada QS. Al Ahzab [33]: 36), artinya sebagai berikut.

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab/33: 36).

Siapa saja yang berusaha hanya untuk dunia, maka ia akan mendapatkan hasil usahanya di dunia. Dan barangsiapa menundukkan dunia atau menempatkan dunia untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wata'ala, niscaya ia akan mendapatkan keberuntungan (rabih) di dunia maupun di akhirat.

3. Tidak Mencampuradukkan antara yang Haq dengan yang Bathil

Antara haq dan yang bathil merupakan dua hal yang sangat berbeda dan saling bertentangan. Karenanya seorang muslim jangan mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil dalam sikap, pendapat dan tingkah lakunya sehari-hari. 

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 42, artinya sebagai berikut.

"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah/2 : 42).

Oleh karena itu, setiap Muslim harus selalu mengikuti apa yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata'ala agar dapat mencapai ketakwaan yang tertinggi. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS Al-An'am [6]: 153, artinya sebagai berikut. 

"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An’am/6: 153).

4. Meninggalkan Hal-Hal yang Tidak Islami

Ketika seseorang telah menyatakan dirinya sebagai muslim, seyogyanya meninggalkan hal-hal yang tidak islami. Karenanya, ketika ada sekelompok sahabat yang dahulunya beragama Yahudi masih juga ingin menjalankan ibadahnya, bahkan mereka meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dengan tegas Allah subhanahu wata'ala melarang hal tersebut.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah/2 : 208, artinya sebagai berikut.

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah/2 : 208)

5.Bangga Sebagai Seorang Muslim

Bangga sebagai seorang muslim, berarti ia merasa senang menjadi muslim. Sehingga, ia akan selalu menunjukkan kepribadian atau identitas keislamannya, di manapun ia berada, serta bagaimanapun situasi dan kondisinya. 

Hal ini akan membuatnya selalu hidup dengan akhlak yang mulia, sebagaimana yang telah ditentukan ajaran Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

"Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, ia akan menghapusnya. Serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Ahmad, At-Tirmizi, Hakim, dan Al-Baihaqi). 

Semoga khutbah ini bisa membawa manfaat yang luar biasa terutama mengambil hikmah dan pelajaran mengenai cara mencetak muslim yang bertanggung jawab. (FAJR)


Humas dan Media Masjid Istiqlal

Tags :

Related Posts: