Memperkuat Ukhuwah untuk Memelihara Keutuhan NKRI

Membangun umat yang militan dalam akidah dan syariah dengan berbagai bentuknya berupa Ibadah dan muamalah, bahkan siyasah, tidak boleh mengurangi toleransi di antara bangsa, apalagi Islam itu sendiri adalah agama yang memelihara ukhuwah.

Share :
Memperkuat Ukhuwah untuk Memelihara Keutuhan NKRI
Artikel

oleh: Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ungkapan ukhuwwah yang sudah menjadi bahasa Indonesia "ukhuwah", tidak asing lagi bagi siapapun yang sehari-hari berbahasa Indonesia di negeri ini, khususnya Umat Islam, sehingga memunculkan ungkapan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Imaniyah, yaitu ukhuwah yang didasarkan atas ajaran Islam bagi kaum Muslimin. 

Ungkapan ini bukan hanya memiliki sejarah panjang dalam membangun umat dan sekaligus bangsa dan negara, tetapi juga mengandung spirit teologis, spiritualis, dan idiologis, apa lagi sosiologis yang amat besar dan mendasar, sehingga penjadi tata nilai kehidupan keberagamaan, keragaman, dan kemasyarakatan setelah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah. 

Secara sosiologis, ukhuwah adalah fitrah kehidupan, khususnya manusia, sehingga merasa tenang dan tenteram hidup berteman dengan orang lain, sehingga disebutkan ungkapan "Saudara" jika dipanggilnya atau memanggilnya, bahkan kehidupan binatang pun selalu bersaudara dengan sesamanya. 

Dikatakan persaudaraan atau saudara mungkin ada kaitan dengan nasab atau keturunan, sifat-sifat atau karakter yang sama, bahkan kesamaan ajaran lebih-lebih dalam akidah. Konteks Akhun, ikhwatun, ukhuwwah adalah ada kaitan dengan persaudaraan.


Dalam Islam, ukhuwah ditata dan dibangun, bahkan lewat ibadah-ibadah, seperti dalam shalat berjamaah, shalat Idulfitri, Iduladha lebih-lebih pada ibadah haji dan umrah, bahkan silaturahim dalam pertemuan tertentu dengan ucapan salam dan ucapan salam pula dalam liqa (pertemuan). 

Saat ini pertemuan dunia pun sering dilakukan di berbagai belahan dunia dengan berbagai tujuan, seperti hukum, HAM dan ekonomi, politik, kebudayaan, peradaban, dan kesamaan agama di dunia Islam.

Namun demikian, di Indonesia khususnya membangun persaudaraan dengan penduduk yang amat banyak sekitar 260.000.000 dengan berbagai agama dan Muslimin, sekitar 200.000 dengan berbagai macam Organisasi Masyarakat (Ormas) yang amat banyak itu diperlukan membangun persaudaraan, dan bertoleransi satu sama lainnya, sehingga persaudaraan terpelihara dengan baik.

Dalam Al-Qur’an banyak diungkapkan kosakata akhun, ukhuwah, ikhwan, akhawat, dan ikhwah dalam bentuk mufrad (tunggal) maupun jamaknya (singular), sehingga paling tidak ada sekitar 96 kosakata dengan berbagai macam bentuknya (shighah).

Dari jumlah tersebut ada yang berkaitan dengan dengan ukhuwah qabailiyah dan syu’ubiyah, dan wathaniyah, seperti para Rasul terdahulu yang diutus oleh Allah kepada masyarakat sebangsa dan setanah-airnya. Ungkapan, seperti: "Wa ila ‘adin akhahum huda" (QS.Hud [11]: 50); "Wa ila tsamuda akhahum shaliha" (Al-A’raf [7]:73), (QS.Hud [11]: 61); Wa ila madyana akhahum syu’aiba (QS.Al-A’raf [7]: 85), (QS. Hud [11]: 84), dan ungkapan yang tercantum pada ayat-ayat lainnya sungguh banyak dalam Al-Qur’an. 

Dalam upaya memperkokoh kekuatan untuk tujuan tertentu, diperlukan bentuk-bentuk persaudaraan atau ukhuwah tersebut. Bila ditelaah secara positif, seperti adanya, "ikhwanul muslimin" atau ikhwanukum fiddin dalam Surat AlAhzab [7]:11, "ikhawatul Iman" dalam QS. Al-Hujurat [49]:10 sampai pada urusan yang negatif, seperti ungkapan ikhwanus syayathin dalam QS. al-Isra [17]:27, ikhwah basyariyah atau ikhwah insaniyah pada Surat al-Hujurat [49]:12 yang dalam konteks dunia modern sekarang ini memunculkan ukhuwah wathaniyah, iqlimiyah, kedaerahan, diniyah, dan keagamaan, seperti perhimpunan negara-negara Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan yang bersifat seperti kebangsaan, seperti Arabiyah dan ASEAN, syu’ubiyah, seperti Asia, Arabiyah, dan Dauliyah (PBB), negara-negara Islam, dan lain-lain.

Ungkapan Ikhwan (jamak-plural) dalam kesamaan dan karakter yang bersifat umum, sementara bentuk jamak ikhwah kesamaan bersifat khusus, seperti saudara senasab. Orang beriman disebut ikhwah karena memiliki nilai kekuatan, seperti persaudaraan "senasab" karena keimanannya. 

Ungkapan yang amat eksplisit yang berkaitan dengan persaudaraan yang senilai dengan nasab ini ialah dalam surat al-Hujurat [49]: 10 sebagai berikut.

Artinya: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Ayat yang pendek dan padat makna ini, berkaitan dengan nilai yang harus menjadi dasar setiap langkah termasuk di dalamnya bila terjadi perbedaan pendapat, konflik, bahkan peperangan sekalipun, tetapi pada akhirnya harus membangun kembali persaudaraan awal, yaitu orang beriman adalah ikhwah. 

Konflik dapat terjadi tanpa memandang, agama, etnis, bangsa, bahkan dalam satu keluarga, baik keluarga dalam arti sempit, seperti rumah tangga, seketurunan maupun yang lebih luas seperti institusi negara, umat Islam, ormas Isam, dan lain sebagainya.

Konflik pun dapat terjadi mulai dari persoalan ringan sampai berebut keyakinan, kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan, seperti masalah politik dan ekonomi. Dalam konteks kekinian sedang dikemukakan juga yang disebut "Toleransi", yang intinya adalah menghargai pada pendapat atau keyakinan orang lain. 

Dalam Islam sikap menghargai yang dalam bahasa Arab disebut "Tasamuh", merupakan keniscayaan dalam kehidupan, lebih-lebih bagi bangsa Indonesia yang memilki berbaga etnis dan barjasa yang amat banyak yang mengisi NKRI di berbagai pulau dan kota-kota di Indonesia dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua.

Memang Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945 itu, dengan ungkapan "Satu Nusa Satu Bangsa" berbagai etnis tersebut sudah disatukan dengan suatu ungkapan satu bangsa.

Dengan demikian dalam ungkapan Islam disebut ukhuwah, maka sungguh akan amat mengikat kepada bangsa ini sehingga dalam kehidupannya berukhuwah. Islam melarang caci maki terhadap perbedaan agama, bahkan dengan orang berbeda agama sekalipun, seperti tercantum dalam QS. Al-Anfal/8: 61, artinya sebagai berikut.

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal[8]: 61).

Kasus penghinaan agama, keyakinan, ormas-ormas keagamaan sebagaimana banyak juga terjadi beberapa waktu yang lalu. Islam sebagai agama yang haq, maka penganutnyapun dilarang untuk memaksakannya pada orang lain seperti disebut pada surat al-Baqarah [2]: 256, artinya sebagai berikut.

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. al-Baqarah[2]: 256).

Di sini tampak Islam amat toleran pada keyakinan apapun. Dalam akhir surat Al-Kafirun [109]:5, dengan diungkapkan, "Lakum dinukum waliya diin". Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangun negara Madinah, suasana yang dibangun di Madinah adalah suasana persaudaraan, "Mu’akhat". 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan, "Ali bin Abi Thalib, Hamzah paman beliau dengan Zaid bin Haritsah, Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Al-Khatthab dengan Itban bin Malik, Usman dipersaudarakan dengan Aus bin Tasbit, Abdurrahman bin Auf dengan Saad bin ar-Rabi, Salman dengan Abu Darda," demikian dalam tarikh disebutkan (Ibn Hisyam). 

Atas dasar itu pula konsep Mua’kahat dicanangkan para pendahulu kita dalam membangun kebersamaan di NKRI ini dengan membangun jamaah dan jamiyah. Para pemimpin bangsa waktu mengumandangkan ungkapan, "Saudara-saudara sebangsa dan setanah air," dan sampai sekarang pun ungkapan ini masih dipelihara. "Dengan ukhuwah kita berjuang bukan 'berjewang'(berebut); kita berjihad dan bukan berebut pengaruh dan kekuasaan."


Toleransi Membangun NKRI

Toleransi dalam membangun NKRI dalam membangun negara dan bangsa di NKRI bukan membangun pribadi atau kelompok tertentu. Itulah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dan itu pula Sunnah para Sahabat, sehingga sukses yang berangkat dari ukhuwah. 

Membangun umat yang militan dalam akidah dan syariah dengan berbagai bentuknya berupa Ibadah dan muamalah, bahkan siyasah, tidak boleh mengurangi toleransi di antara bangsa, apalagi Islam itu sendiri adalah agama yang memelihara ukhuwah. 

Bila membaca tuntunan Al-Quran dan Sunnah, maka ukhuwah menjadi banyak antara lain sebagai berikut: "Ukhuwah Imaniyah dikokohkan kembali, Ukhuwah Diniyah, Ukhuwah Qabiliyah, Ukhuwah Wathaniyah, Ukhuwah Iqlimiyah-ASEAN, Ukhuwah Dauliyah-PBB, sehingga kebersamaan dalam membangun bangsa dan dunia berjalan dengan baik. 

Peradaban Dunia dengan mempertahankan dan memelihara ukhuwah dalam konteks apapun, sehingga konflik dan peperangan tidak akan terjadi, seperti kasus terakhir masalah Afghanistan, mestinya tak ada lagi pertentangan apalagi peperangan dan membangun ukhuwah lewat musyawarah yang diajarkan Al-Quran dan Sunnah.

Toleransi di NKRI merupakan keniscayaan dengan catatan tidak keluar juga dari ketentuan peraturan yang ada di Indonesia, UUD-45, Pancasila, perundang-undangan yang ada. 

Untuk itulah, maka Pembangunan Ukhuwah dalam upaya memelihara Toleransi di NKRI, merupakan ajaran Islam yang kaffah. Namun demikian, Amar perjalanan dakwah dan Ma’ruf Nahyi Munkar harus tetap dilaksanakan dan tidak terputus di tengah jalan.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata'ala selalu mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita semuanya dan juga orang tua kita semua. Semoga kita, kaum Muslimin Indonesia, dan umat manusia di dunia dijauhkan dari wabah Corona, dan virus lainnya yang sedang mewabah kali ini. 

Di sisi lain kita saling menghargai dalam kehidupan ini, dijauhkan dari pertentangan, pertengkaran dan memelihara toleransi di kalangan bangsa ini. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: