Membendung Radikalisme dengan Wasathiyatul Islam

Inilah indahnya Islam. Tidak pernah melihat buruk sesuatu dari mata kita, melainkan semua hal harus dilihat dari sisi Allah subhanahu wata'ala.

Share :
Membendung Radikalisme dengan Wasathiyatul Islam
Artikel

Oleh : H. Abdul Muta’ali, MA, M.I.P, Ph.D


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Islam mulianya bukan hanya sebagai agama yang Allah subhanahu wata'ala turunkan, atau juga sebagai agama yang Allah ridai, yang disampaikan oleh para Nabi, sejak Adam a.s. hingga Muhammad SAW.

Namun, kemuliaan Islam juga bisa dilihat dari namanya, as-la-ma, yus-li-mu is-la-man (menyelamatkan, mendamaikan, menentramkan). Sebagaimana yang Allah firmankan pada QS. Al-Maidah: 16, artinya sebagai berikut.

"Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah: 16)

Jadi, hukum dan syariat yang Allah turunkan memiliki ragam bentuk pilihan. Namun pilihan yang banyak tersebut, destinasi dan tujuannya adalah as-salam, yaitu kedamaian dan keselamatan.

Artinya, dari beragam perbedaan tata cara beribadah dan beruamalah, kalau tujuannya hanya untuk meraih rida Allah subhanahu wata'ala, kita akan sampai pada destinasi As-salam. Sehingga tidak pernah mengklaim paling benar, atau paling haq, karena yang memiliki haq hanya Allah subhanahu wata'ala.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al Baqarah [2]: 147

"Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al Baqarah [2]: 147)

Islam bukan hanya memberikan kedamaian, ketenangan kedalam atau keluar. Hal ini dapat dilihat ketika  Rasulullah SAW mau mengetuk paripurna 48 pasal piagam Madinah, ada kekhawatiran dari sahabat kita umat nasrani dan yahudi, bahwasanya dikhawatirkan kitab Zabur, Injil, Taurat akan dihapus karena adanya Alquran.

Tapi Rasulullah SAW dengan tegas mempersilakan umat Nasrani dan Yahudi menggunakan kitabnya. Sebagaimana hal tersebut juga Allah firmankan dalam QS. Al-Maidah [5]: 47, artinya sebagai berikut.

"Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maidah [5]: 47)

Inilah dakwah Rasulullah SAW saat awal tibanya di Madinah untuk melakukan konsolidasi bahwa Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin.

Banyak para islamic secular, para ulama, membuat kontruksi alat untuk melihat indahnya Islam yang luar biasa ini. Di antaranya ada seorang ilmuan barat, namanya Karen Armstrong, beliau menulis buku Muhammad: A Prophet for Our Time.

Ada dua  metodologi untuk melihat indahnya Islam yang basisnya tauhidullah, pertama adalah sains, sesuai dengan firman Allah yang pertama, iqra (bacalah).

Karena itu kita bisa ketahui bahwasanya Islam bukan agama yang emosional, namun merupakan agama yang rasional karena basisnya adalah iqra-qiroah (bacalah, telitilah, amatilah).

Itu sebabnya, Rektor Al-Azhar Syekh Abdul Halim Mahmud, mengumpulkan para ahli hadist sedunia di Kairo, karena ada sebuah indeks yang ditulis oleh seorang dengan agama selain muslim, A.J. Wensinck, tentang hadist "Yasirru wala tu’assiru, wabasysyiru wala tunafiru," atau artinya sebagai berikut.

"Mudahkanlah dan janganlah engkau persulit orang lain dan berilah kabar gembira pada mereka, jangan membuat mereka menjadi lari." [HR. Bukhari dan Muslim]

Padahal hadist dan sunnah Nabi merupakan sumber hukum Islam kedua bagi umat Islam. Oleh karenanya, kemudian indeksnya perlu diketahui apakah kalimat, narasi yang dia tulis adalah hadist atau bukan.

Abdul Halim Mahmud mengumpulkan para ahli hadist sedunia di Al-Azhar, Mesir, untuk mengecek, untuk menguji kitab indeks hadist tersebut tersebut . Ternyata ketika dicek, tidak ada satu penyimpangan informasi, tidak ada distorsi. 


Akhirnya rapat memutuskan untuk mengundang penulis A.J. Wensinck, untuk dibawa ke muktamar guna melihat dan mencari tahu apa motivasinya dalam menulis indeks hadist tersebut. 

Saat ditanya oleh forum mengenai alasannya menulis indeks hadist tersebut, A.J. Wensinck menjawab, "Sebenarnya kami punya motivasi seperti motivasi banyak orang yang melihat indahnya Islam, tanpa saya harus menyebut secara eksplisit tujuan tersebut. Tapi ternyata, setelah saya mendalami, mengecek hadist-hadist Nabi, serta untaian-untaian kalimat Nabi Anda, justru kami menemukan satu hadist yang sangat dahsyat."

A.J. Wensinck juga menjelaskan hadist yang menginspirasinya, "Ketika itu Nabi Anda mengutus dua orang Gubernur yaitu Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari -radhiyallahu ‘anhumaa- Ketika akan mengutus dua gubernur tersebut ke negeri Yaman bagian Utara dan Selatan, Rasulullah SAW lantas memberikan nasihat kepada dua calon tersebut, yaitu:

"Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari." [HR Bukhari dan Muslim]

Dengan pesan berikut, A.J. Wensinck sangat terkesima karena membaca hadist Nabi yang luar biasa. Karena kondisi saat itu di Persia dan Romawi, masyarakat kesulitan membuat kartu identitas karena banyaknya pungutan liar (pungli). Tapi ternyata Nabi Anda sudah mewasiatkan sebuah good governance. Ternyata Islam sudah lebih moderat dibanding zamannya. 

Kedua, basis untuk melihat indahnya Islam adalah etika dan akhlak. Tidak pernah memvonis seseorang dengan buruk, walaupun di mata kita sangat buruk. 

Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam fathul bari menjelaskan terkait doa yang dipanjatkan oleh kita, ketika ingin mendapatkan malam lailatul qadar, "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni'. Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku."

Ternyata doa tersebut datang dari seorang perempuan, yang dalam bahasa Arab disebut syarmutoh (Perempuan yang malang, yang pekerjaannya bertentangan dengan hukum-hukum universal).

Perempuan syarmutoh yang dikisahkan dalam doa tersebut, tempat kerjanya melewati Masjid Nabawi. Ketika malam 25 Ramadan dan perempuan tersebut mau bekerja dan kerjanya memang terhitung haram tersebut, dia mendengar Nabi sedang bermunajat, para sahabat sedang beritikaf. Melihat hal itu, syarmutoh langsung tersungkur sambil berkata, "Ya Rabb, nabi-Mu yang sudah dijamin masuk syurga dan sudah Kau haramkan neraka baginya masih bertaubat, sedang saya yang berlumur dosa masih hendak melakukan yang haram." 

Akhirnya setelah menyadari, dan mengungkapkan isi hatinya kepada Allah subhanahu wata'ala, syarmutoh tersebut berdoa, "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni'." Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku."

Melihat hal tersebut, Rasulullah berkata, "Wahai syarmutoh, kamu beruntung karena mendapatkan malam lailatul qadar." Sedangkan para sahabat yang sedang berdzikir dan beribadah malah tidak mendapatkannya. 

Peristiwa tersebut, akhirnya memberi kita pelajaran, untuk tidak menjustifikasi buruknya orang lain sesuai dengan apa yang kita lihat. Padahal bisa saja mereka sudah terlebih dahulu bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala.

Inilah indahnya Islam. Tidak pernah melihat buruk sesuatu dari mata kita, melainkan semua hal harus dilihat dari sisi Allah subhanahu wata'ala. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: