Khutbah Jumat: Momentum Hijrah: Muhasabah Untuk Berubah Menjadi Lebih baik

Dengan melakukan muhasabah secara rutin dan mendalam, kita dapat meningkatkan kualitas keimanan dan keislaman kita, serta mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala.

Share :
Khutbah Jumat: Momentum Hijrah: Muhasabah Untuk Berubah Menjadi Lebih baik
Berita

Oleh : Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A, Ph.D (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Tiada kalimat yang patut kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wata'ala selain kalimat Alhamdulillahirabbil 'alamin sebagai ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita.

Selanjutnya, tiada hal yang lebih indah dari melantunkan shalawat dan salam untuk baginda kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia mulia yang telah memikul tanggungjawab membawa risalah Islam, membimbing kita dari kegelapan jahiliyah menuju terang kehidupan sebagai masyarakat Mukmin dan Muslim.

Oleh karena itu, adalah suatu keharusan bagi kita untuk selalu memperkuat ketakwaan dalam kehidupan kita.

Dalam berbagai literatur Islam, takwa dalam hal ini dimaknai sebagai kesungguhan dalam menjalankan setiap perintah Allah subhanahu wata'ala dan menjauhi seluruh larangan-Nya (إمتثال أمر الله واجتناب نواهيه).

Melalui pendisiplinan sikap dan perilaku takwa dalam diri, Insya Allah setiap Muslim akan dapat menjadi pribadi yang hidup sepenuhnya di jalan Allah, menjalankan misi utama penciptaan manusia di dunia ini, yaitu beribadah.

Lantas, apa saja di antara bentuk ketakwaan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah diungkapkan sebagian ulama dengan menyebutkan:

المنعم وشكر والتوكل والقناعة والزهد والرضا والصبر الإخلاص الأوامر ومن الدين أمور من منه بد لا ماوتعلم العلم أهل ومحبة والنصيحة

Artinya : “Di antara perintah-perintah Allah adalah ikhlas, sabar, ridla, zuhud, qana'ah, tawakkal, bersyukur kepada pemberi nikmat (Allah), nasehat, mencintai ahli ilmu (alim ulama) dan mempelajari ilmu agama”.

ومن النواهي الحقد والحسد والبغي والغضب لغير الله والغش والخديعة والمكر والكبر والعجب

Artinya : “Di antara larangan-larangan Allah adalah dendam, iri dengki, berbuat zalim, marah bukan karena Allah, penipuan, kemunafikan, tipu muslihat, sombong dan mengagumi diri sendiri”

Demikianlah pengertian takwa yang bisa kita ambil untuk kita laksanakan dan terus kita tingkatkan kualitas pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Dalam beberapa waktu ke depan, kita akan segera menutup lembaran tahun 1445 Hijriyah dan bertemu lembaran baru tahun hijriyah yang dimulai dengan tanggal 1 Muharram 1446 Hijriyah.

Pergantian tahun ini merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk melakukan muhasabah, introspeksi diri, berkaca dengan apa yang sudah kita lakukan maupun capai hingga saat ini.

Dalam hal ini, muhasabah bukan dilakukan dengan mengevaluasi seberapa besar pencapaian keuntungan material atau menghitung berapa banyak kegiatan yang telah kita kerjakan.

Namun lebih dari itu, Muhasabah dalam hal ini proses introspeksi jiwa, evaluasi tindakan, dan perbaikan diri sebagai manusia yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala.

Sebagai manusia, kita diciptakan dengan berbagai kelebihan dan keunggulan dibanding makhluk-makhluk Allah yang lainnya.

Namun meski demikian, manusia tetap memiliki keterbatasan-keterbatasan yang terkadang membuat manusia lupa dan abai akan berbagai ketentuan yang ditetapkan agama.

Oleh karena itu, dibutuhkan proses muhasabah atau introspeksi diri pada setiap diri kita atas segala tindakan yang dilakukan. Muhasabah perlu dilakukan dengan istikamah sebagai pengingat bahwa segala perbuatan tidak akan luput dari catatan-catatan malaikat.

Apakah konsisten dalam prilaku terpuji atau justru sebaliknya. Tentu saja kita berharap bahwa Allah subhanahu wata'ala selalu memberikan petunjuk dan rahmat-Nya kepada kita agar senantiasa bisa melaksanakan perintah-perintah Allah dan konsisten menjauhi larangan-larangan-Nya. Amin ya Rabbal alamin.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Sebagai sebuah keharusan, muhasabah banyak disebutkan dalam berbagai ayat al-Quran, hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, qoul ulama, maupun berbagai literatur Islam.

Dalam ayat Al-Qur’an Allah subhanahu wata'ala telah menjelaskan pentingnya peranan muhasabah sebagaimana tertuang dalam firmannya Qur'an Surat al-Hasyr ayat 18-19 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ (18) وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ (19)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

Selain mendorong untuk selalu menjaga ketakwaan, Allah subhanahu wata'ala pada ayat tersebut mendorong setiap mukmin untuk senantiasa melakukan introspeksi diri atau memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk kepentingan kehidupan esok hari (akhirat) yang lebih beruntung.

Di saat yang sama, ayat ini juga menekankan dorongan agar manusia tidak lupa diri, terutama lupa akan status dirinya sebagai makhluk Allah subhanahu wata'ala sehingga terjerembab dalam golongan orang-orang fasik.

Selanjutnya tentang muhasabah ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Artinya : “Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Sayyidina Umar bin Khaththab radhiallahu anhu ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyerukan kepada kita agar senanti melakukan evaluasi diri, interospeksi diri, atau muhasabah.

Hal ini penting diakukan agar kita dapat selalu menjaga tindakan kita dalam kehidupan ini agar senantiasa selaras dengan aturan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam sekaligus juga untuk memastikan bahwa tidak mengulang kesalahan yang merugikan diri kita sendiri.

Dengan muhasabah, setiap orang akan beroleh keuntungan dengan ringannya perhitungan atas amalnya selama di dunia.

Terkait pentingnya muhasabah atau introspeksi diri oleh setiap diri kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Syadad bin Aus radhiallahu anhu :

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هُوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

Artinya : “Dari Syadad bin Aus radhiallahu anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah subhanahu wata'ala” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, ini hadits hasan).

Pada hadits di atas, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pujian sekaligus identifikasi kepada setiap orang yang selalu berintrospeksi dan beramal untuk kehidupan setelah kematian sebagai salah satu karakteristik cerdas (al-Kayyis).

Sedang orang-orang yang senantiasa terbawa oleh nafsu sebagai akibat tindakan tidak selalu introspeksi diri dikelompokkan sebagai orang yang lemah (al-’Ajiz).

Demikianlah ayat al-Quran maupun hadist Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pentingnya muhasabah dilakukan setiap dari kita. Muhasabah, sebagai tindakan introspeksi diri, evaluasi diri, atas segala tindak tanduk yang bersifat batin maupun lahir semata-mata untuk kepentingan diri manusia sendiri agar mendapat kehidupan yang lebih baik.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah. Sejumlah ayat al-Quran dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan di atas menekankan pentingnya muhasabah dilakukan oleh setiap Muslim.

Mengapa muhasabah menjadi begitu penting bagi setiap manusia? Hal ini karena dengan muhasabah maka kita akan mendapatkan sejumlah manfaat dalam meningkatkan kualitas diri kita sebagai seorang Muslim.

Pertama, penyempurnaan Ibadah. Melalui muhasabah yang dilakukan secara rutin, setiap dari kita akan dapat mengevaluasi kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Dengan evaluasi ini, ia kemudian dapat mengidentifikasi dimana saja kekurangannya dalam beribadah sehingga darinya ia akan termotivasi untuk lebih giat beribadah, mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala, baik melalui ibadah yang fardhu maupun yang sunnah.

Kedua, penguatan kualitas Ketakwaan. Muhasabah akan membantu setiap dari kita dalam meningkatkan kesadaran meningkatkan ketakwaan terhadap Allah subhanahu wata'ala dengan menjalankan perintah-Nya sekaligus juga menjauhi setiap bentuk larangan-Nya.

Selanjutnya, ketika tingkat ketakwaan sudah diraih, maka setiap dari kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung dan mulia dalam pandangan Allah subhanahu wata'ala.

Ketiga, peningkatan kualitas diri. Proses muhasabah yang rutin akan memungkinkan seseorang untuk selalui mengevaluasi sikap dan perilakumua sehari-hari.

Dengan mengkritisi diri sendiri secara jujur, kita dapat mengidentifikasi sifat-sifat negatif dan kebiasaan buruk yang perlu jauhi dan hilangkan.

Selanjutnya, melalui proses muhasabah, seorang Muslim juga dapat memperkuat kesadaran diri untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan menghiasinya dengan berbagai bentuk akhlak yang mulia.

Keempat, muhasabah diri akan menghadirkan manfaat tidak semata-mata untuk kepentingan seseorang dalam berkomunikasi dengan Tuhan-nya (hablun min Allah). Lebih dari itu, dengan kualitas ibadah yang baik, derajat ketakwaan yang meningkat, kualitas diri yang lebih baik, maka Muhasabah juga berdampak pada bagaimana setiap dari kita berkomunikasi dengan manusia dan alam sekitarnya (hablun minannas).

Seorang yang beribadah dengan ikhlas dan ketakwaan yang tinggi, dipastikan dirinya akan memiliki sifat dan perilaku yang mulia dalam kehidupan sosialnya, sehingga ia menjadi sebaik-baiknya manusia yakni yang paling bermanfaat untuk sesamanya.

Untuk itu, marilah kita melakukan muhasabah dan menjadikannya sebagai proses yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai Muslim. Dengan melakukan muhasabah secara rutin dan mendalam, kita dapat meningkatkan kualitas keimanan dan keislaman kita, serta mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala.

Semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di jalan-Nya.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah. Demikian khutbah Jumat singkat ini. Semoga kita selalu bermuhasabah dalam keseharian kita, terutama bermusabah menjelang pergantian lembaran tahun 1445 Hijriyah menjadi 1446 Hijriyah sehingga kita menjadi hamba yang selalu taat kepada Allah subhanahu wata'ala dan meneladani manusia agung baginda Nabi Muhammad yang telah memberikan teladan penting bagi kita semua. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: