Khutbah Jumat: Hikmah Ibadah Kurban Bagi Kaum Dhuafa

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan berkurbanlah”. (Qur'an Surat al-Kautsar ayat 1 - 2)

Share :
Khutbah Jumat: Hikmah Ibadah Kurban Bagi Kaum Dhuafa
Berita

(Intisari Khutbah Jum’at, 07 Dzulhijjah 1445 H / 14 Juni 2024 M)

Oleh : Kombes Pol. (Purn) Dr. H. Muh. Yahya Agil, MM

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Mengawali khutbah ini mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala. Alhamdulillah kita dapat berkumpul di Masjid Istiqlal untuk bersama-sama melaksanakan shalat jumat yang diawali dengan khutbah yang sedang berlangsung.

Shalawat seiring salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pendobrak kebatilan menuju kebenaran, beserta keluarga dan para sahabat serta seluruh ummatnya sampai hari kiamat. Semoga kita mendapatkan syafa’atul ‘uzma kelak di hari kiamat, dari baginda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selaku khatib saya mengajak, mari kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata'ala. Dengan meyakini bahwa kita dari Allah dan akan kembali kepada-Nya cepat atau lambat, serta dengan melakukan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah. Firman Allah dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 102 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Āli ‘Imrān [3]:102)

Sidang jumat yang dimuliakan Allah.
Judul khutbah ini adalah “Hikmah Ibadah Qurban Bagi Kaum Dhu’afa”. Berkurban merupakan wujud syukur kita kepada Allah subhanahu wata'ala atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua, bahkan apabila kita ingin menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, tentunya kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya, firman Allah dalam Qur'an Surat an-Nahl ayat 18 :

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: "Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Naḥl [16]:18)

Berdasarkan ayat ini jelas bahwa kita diperintahkan untuk mensyukuri akan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Salah satu wujudnya kita diperintahkan untuk berkurban, hal ini sebagaimana firman Allah dalam Qur'an Surat al-Kautsar ayat 1 - 2 :

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ (2)

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan berkurbanlah”. (Qur'an Surat al-Kautsar ayat 1 - 2)

Ayat ini jelas bahwasanya sebagai wujud syukur, kita diperintahkan untuk mendirikan shalat sembari berkurban, sehingga berdasarkan ayat ini bahwa belum sempurna shalat seseorang sebelum ia berkurban.

Menurut para pakar bahasa Arab, bahwa kurban berarti suatu sarana untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Kurban juga bisa didefinisikan sebagai penyembelihan hewan ternak yang dilaksanakan atas perintah Allah subhanahu wata'ala pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (ayyam al-tasyriq), yakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

Dalam fiqh, kurban dikenal dengan istilah udhhiyyah yang berarti hewan yang disembelih dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala.

Adapun hukum ibadah kurban menurut para ahli hukum Islam adalah sunah muakadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan bagi orang muslim yang mampu.

Ketentuan mampu di sini tidak selalu identik dengan orang kaya, artinya orang yang berkurban tidak mesti harus kaya. Dalam pandangan mazhab Syafii, apabila seseorang masih mempunyai sejumlah uang di luar kebutuhan dan biaya hidupnya pada hari raya idul adha dan tiga hari berikutnya, yakni hari-hari tasyriq(ayyam al-tasyriq), maka baginya telah berlaku kewajiban untuk berkurban.

Dan perlu diperhatikan bahwa berkurban itu tidak hanya cukup sekali dalam seumur hidup, tetapi selama memiliki kemampunan, maka setiap tahun kita berkewajiban untuk berkurban.

Berkurban juga bisa sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah subhanahu wata'ala, hal ini sebagaimana gambaran yang dikisahkan Nabi Ibrahim alaihis salam dan Nabi Ismail alaihis salam, di mana Nabi Ibrahim sampai tega mengorbankan anak kesayangannya untuk disembelih (dikorbankan) demi mewujudkan ketaatannya kepada Allah subhanahu wata'ala.

Lihat firman Allah dalam Qur'an Surat As-Shaffat 102 :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]:102)

Sidang Jumat yang berbahagia.
Berkurban juga bisa berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala dan wujud syukur kita kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

Bila itu tidak dilakukan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamSangat membenci dan mengancam orang-orang yang tidak mau atau enggan berkurban. Hal ini sebagai hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

Artinya : “Barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban tetapi tidak mau berkurban, maka mati sajalah ia sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani”.

Dalam hadis yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamjuga bersabda :

Artinya: "Barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban tetapi tidak mau berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kita”.

Berdasarkan ayat dan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, jelaslah bahwa berkurban memiliki rahasia yang sangat luar biasa, di mana di satu sisi berkurban bisa menjadi penyelamat dari keburukan di dunia dan akhirat, dan di sisi lain berkurban juga bisa menjadi sarana penyempurna ibadah.

Dengan demikian jelaslah bahwa berkurban bisa menjadi sarana sosial sekaligus menjadi sarana ibadah. Untuk itu berkurban jangan hanya dipahami secara tekstual saja, tetapi juga harus dipahami secara konstekstual.

Artinya bahwa secara luas berkurban tidak serta merta hanya dapat diwujudkan dalam bentuk pemotongan hewan sebagaimana yang biasa dilakukan setiap hari raya idul adha dan hari-hari tasyriq, tetapi berkurban juga bisa diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang lain (seperti harta, tenaga, pikiran/ide, waktu, dan lain-lain). Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

Artinya : “Barangsiapa yang mempunyai harta, maka berikanlah hartanya, dan barang siapa yang mempunyai kekuatan/tenaga, maka berikanlah kekuatan / tenaganya, barang siapa yang mempunyai ilmu, maka berikanlah ilmunya“

Namun kenyataan dalam masyarakat masih banyak orang-orang yang enggan untuk berkurban, hal ini bukan saja karena mereka tidak tahu akan rahasia pentingnya berkurban, tetapi juga karena memang mereka tidak mau. Untuk itu perlu adanya sosialisasi yang optimal tentang kesadaran berkurban, baik berkurban dalam bentuk hewan (yang waktunya telah ditentukan), maupun berkurban dalam bentuk-bentuk yang lain, sehingga tidak ada lagi orang yang enggan untuk berkurban, yang pada akhirnya kepedulian antar sesama dapat diwujudkan dan dirasakan bersama (keshalehan individual dan keshalehan sosial).

Sidang Jumat yang berbahagia. 
Idul Adha dan Ibadah qurban adalah anugerah yang diberikan Allah subhanahu wata'ala agar kita makin bersyukur atas banyaknya nikmat yang diberikan Allah subhanahu wata'ala kepada kita. Dengan berkurban seorang muslim menyatakan rasa syukurnya sebab betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah subhanahu wata'ala.

Nikmat yang tidak mungkin dihitung besar dan jumlahnya. Apakah itu berupa rezeki, harta, pangkat dan jabatan, dan yang paling utama adalah nikmat Iman dan Islam. Sekaligus juga untuk meneladani tiga sosok manusia yaitu Nabi Ibrahim alaihis salam, Siti Hajar dan Nabi Ismail alaihis salam.

Dhu’afa adalah orang yang hidup dalam kondisi miskin atau sangat membutuhkan bantuan. Mereka dapat berada dalam berbagai situasi, seperti korban bencana alam, orang yang sakit parah, anak yaitim piatu dan orang tua yang tidak memiliki keluarga.

Dhu’afa juga berarti lemah atau tidak berdaya. Bisa juga berarti orang yang hidup dalam kesengsaraan, kelemahan, ketidak berdayaan dan kemiskinan, sehingga membutuhkan pertolongan orang lain agar dapat bertahan hidup.

Di bawah ini saya sampaikan tentang beberapa hikmah ibadah qurban bagi kaum dhu’afa sebagai berikut :

1. Bisa menjadi salah satu sarana pendidikan untuk kita semua, agar tidak lupa bersedekah di jalan Allah. Termasuk dapat mencerdaskan anak bangsa (dhu’afa), agar memiliki kesempatan untuk menikmati pendidikan, sama dengan saudara-saudaranya yang mampu.

2. Bisa menjadi sarana tolong menolong (ta’awun). Karena dengan berkurban menyembelih kambing, sapi atau kerbau dan dagingnya diberikan sebagian kepada fakir miskin, maka kita dapat menolong dan menyantuni kaum dhu’afa,yang bagi mereka makan daging adalah suatu kemewahan tersendiri.

Aspek sosial dalam ibadah kurban inilah yang harus selalu digalakkan oleh kaum muslimin.

3. Bisa menjadi sarana zikir dan pikir. Karena dengan mengumandangkan takbir Allahu Akbar walillah ilham, ketika akan menyembelih hewah kurban, itu adalah zikir sebagai bentuk pengagungan akan kebesaran Allah subhanahu wata'ala, sekaligus selalu berpikir positif (husnuzhan), bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan baik hamba-Nya.

Sidang jumat yang berbahagia.
Sebagai penutup marilah kita sambut Hari Raya Idul Adha, atau Idul Qurban atau Idul Haji 1445 H, dengan menunggu pengumuman dari pemerintah melalui Kemenag RI. Kita do’akan semoga saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah haji, semoga hajinya mabrur dan mabrurah yang tidak ada balasannya kecuali surga.

Semoga yang wafat Allah ampuni dosanya dan menerima ibadahnya dan yang sakit semoga segera sembuh. Semoga Allah memberikan kita rezeki agar dapat berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Al-Munawwarah dan berkunjung ke Makkah Al-Mukarramah untuk berhaji atau berumrah.

Semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan kekuatan lahir batin, agar kita dapat melaksanakan perintah-perintah Nya dan menjauhi laranga-larangan-Nya. Semoga Indonesia tercinta menjadi negeri yang baldah thayyibah wa rabbun ghafur. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: