Khutbah Jumat: Berdamai dengan Covid-19

Di tengah duka yang menyelimuti seluruh penjuru dunia dengan maraknya Covid-19, kita harus terus meningkatkan iman dan imun kita dengan menerapkan protokol kesehatan dan juga berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga wabah ini segera berlalu.

Share :
Khutbah Jumat: Berdamai dengan Covid-19
Khutbah

(Oleh H. Martomo Malaing, SQ, MA)


Jakarta, www.istiqlal.or.id- Wasiat takwa senantiasa mengawali setiap khutbah. Karena dalam kehidupan abadi di akhirat kelak, tidak ada yang bermanfaat bagi kita kecuali takwa dan amal shalih. 

Untuk itu, marilah kita berusaha untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Di tengah duka yang menyelimuti seluruh penjuru dunia dengan maraknya Covid-19, kita harus terus meningkatkan iman dan imun kita dengan menerapkan protokol kesehatan dan juga berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga wabah ini segera berlalu. 

Apalagi saat ini di Indonesia, kasus positif Covid-19 bukannya mengalami penurunan, namun justru sedang mengalami lonjakan. Kondisi ini harus disikapi serius oleh seluruh elemen bangsa, dengan tidak lengah dan tidak lelah dalam menerapkan protokol kesehatan. 

Jangan sampai kita menjadi bagian dari individu yang menyengsarakan diri pribadi ataupun orang lain. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam QS Al-Baqarah [2]: 195, artinya sebagai berikut.

Artinya : “Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Mari optimis! Melalui ikhtiar lahir dan batin, kita bisa melewati situasi yang berat ini dengan baik. Doa dan pendekatan diri pada Allah subhanahu wata'ala harus terus kita panjatkan, karena Dia-lah yang menciptakan virus ini dan Dia-lah yang akan mengangkat virus ini dari bumi. 

Semua yang terjadi pada saat ini adalah atas kehendak-Nya, dan kita harus mampu menghadapinya agar situasi sulit ini bisa berubah kepada kondisi yang lebih baik. Allah berfirman dalam QS. Rad [13]: 11, artinya sebagai berikut.

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Rad [13] : 11).

Berusaha dan berprasangka baik kepada Allah subhanahu wata’ala dalam segala hal tentu sangat dianjurkan dalam agama, tidak ada faktor kebetulan dalam hidup ini, semua sudah diatur oleh-Nya. Setelah manusia berusaha keras semampunya, apapun hasilnya tetap harus berprasangka baik kepada Sang Pencipta, Allah subhanahu wata’ala. 

Dalam Al-Qur'an, diketahui terdapat empat ayat yang bisa membuat manusia berdamai dengan Covid-19, yaitu dengan selalu berprasangka baik kepada Allah subhanahu wata’ala dalam segala hal. 

1. Hidup Adalah Cobaan dan Ujian

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 155, artinya sebagai berikut.

Artinya : “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah [2] : 155).

Selain itu, terdapat juga firman Allah subhanahu wata'ala dalam QS. Al-Ankabut:2-3, artinya sebagai berikut. 

Artinya : “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. al-Ankabut [29]: 2 - 3).

2. Allah Menguji Hamba-Nya Sesuai dengan Kemampuannya

Pernyataan tersebut dapat kita dapati dalam firman Allah subhanahu wata'ala pada QS. Al-Baqarah [2]: 286, artinya sebagai berikut.

Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

3. Boleh Jadi Segala yang Tidak Disukai Akan Berakibat Baik Bagi Kita Begitu Pula Sebaliknya

Sungguh hanya Allah subhanahu wata'ala yang maha mengetahui segala sesuatu, bahkan segala hal yang tersembunyi, serta segala sesuatu yang tidak kita ketahui.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 216, artinya sebagai berikut.

Artinya : “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

4. Bersama Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah lepas dari nikmat dan begitu juga tak akan bisa lepas dari musibah dan cobaan. Saat mendapatkan nikmat dan saat menghadapi musibah, Islam telah memberikan panduan dengan senantiasa memegang dua prinsip, yaitu bersyukur ketika mendapat nikmat, dan bersabar saat mendapatkan musibah.

Kedua hal tersebut juga bisa menjadi barometer atau ukuran keimanan seseorang yang akan menjadikannya kuat dan sabar, dalam menjalani lika-liku perubahan kehidupan.

Musibah adalah ujian dari Allah subhanahu wata'ala, sekaligus wujud cinta-Nya pada hamba-Nya. Cinta dan kasih sayang Allah subhanahu wata'ala akan diberikan kepada hamba-Nya yang kuat dalam menghadapi musibah. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

"Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridha (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan."

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut, marilah kita jadikan motivasi bagi diri agar senantiasa optimis dan terus sabar dalam menghadapi musibah. Memang terkadang, pesimisme terus menghantui kita, dan semakin menambah berat beban musibah dan cobaan yang coba kita hadapi.

Namun sebenarnya, dalam samudera yang luas, tolak ukurnya bukan berada pada besarnya ombak lautan yang dihadapi, melainkan ukuran perahu kita yang terlalu kecil untuk mengarunginya. 

Hal tersebut menjadi analogi pada pernyataan bahwasannya poin kehidupan bukan terletak pada besarnya masalah yang dihadapi, melainkan rasa syukur serta kesabaran kita yang selalu perlu ditingkatkan untuk menghadapi setiap persoalan kehidupan. Sebagaimana firman Allah pada QS. Az-Zumar [39]: 10, artinya sebagai berikut.

"Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."

(QS. Az-Zumar [39]: Ayat 10)

Perlu disadari bahwa sikap sabar juga bukan simbol dari sikap menyerah terhadap kondisi yang ada. Sabar perlu diiringi dengan ikhtiar untuk menghadapi ujian yang ada. Bukan lari dari ujian itu sendiri. 

Ujian dalam hidup akan menjadikan kita lebih kuat dan berpengalaman dalam menghadapi ujian yang nantinya pasti akan kita temui lagi. 

Lari dari ujian hidup, bukanlah solusi untuk menyelesaikannya. Karena jika kita lari dari ujian dan masalah hidup, maka bersiaplah untuk menghadapi masalah yang lebih besar.

Sabar itu seperti payung yang tidak akan bisa menghentikan hujan namun akan melindungi kita dari air yang membasahi sehingga kita masih akan tetap bisa berjalan di tengah derasnya hujan. 

Kesabaran tidak akan bisa menghilangkan musibah namun kita akan tetap tegar dalam melewatinya. Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah [94]: 5-6, artinya sebagai berikut.

Artinya : "Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. al-Insyrah [94] : 5-6).

Oleh karenanya, dalam kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita menundukkan kepala dan hati sejenak, seraya merenung serta bersyukur dan bertahmid kepada Allah subhanahu wata’ala, atas berbagai nikmat yang Allah subhanahu wata’ala karuniakan kepada kita. 

Pada saat yang bersamaan juga, marilah kita merenung sambil mengintrospeksi perbuatan dan tindakan masa lampau kita, seraya memohon ampun dan bertaubat dari lubuk hati yang paling dalam, terhadap bebagai dosa dan kekeliruan yang telah kita lakukan selama ini.

Kita pasrahkan diri kita secara total kepada Allah SWT, semoga dengan sikap tawadlu’ dan tawakal ini, Allah SWT mengangkat rangkaian musibah yang terjadi di berbagai tempat, baik musibah yang berupa kecelakaan, wabah penyakit, fitnah maupun dalam bentuk perang saudara yang melanda umat kita di berbagai tempat di muka bumi ini. (FAJR)


Humas dan Media Masjid Istiqlal

Tags :

Related Posts: