Khutbah Jumat: Agama Sumber Inspirasi Norma Kehidupan Berbangsa

Kita berharap dan meletakkan asa dan harapan yang kuat, bila semua arahan dalam al-Qur’an itu mengilhami dan menjadi sumber inspirasi dari semua anak bangsa dalam melaksanakan roda kehidupan berbangsa dan bernegara.

Share :
Khutbah Jumat: Agama Sumber Inspirasi Norma Kehidupan Berbangsa
Artikel

Oleh: Dr. KH. Soetrisno Hadi, SH, MM, MSi

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pertama-tama, izinkan saya berwasiat terutama untuk diri saya dan umumnya pada seluruh jama’ah dengan wasiat taqwa. Sebagai orang yang beriman dan bertaqwa kita bersyukur karena dijadikan Allah subhanahu wata'ala selain sebagai makhluk religius, makhluk individual, juga makhluk sosial hayawanun ijtima’iyyun.

Sebagai makhluk sosial, the social animal, kita hidup berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk dengan 86,70% Muslim, dan total populasi 279 juta penduduk, 300 kelompok etnis dan 1.340 suku bangsa, menempati 17.504 pulau yang tersebar di seantero Nusantara. Dalam negara seperti itu, peran agama menjadi amat sentral dan strategis sebagai sumber inspirasi yang mengilhami norma-norma kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai sumber ilhami dalam melangsungkan setiap gerak dan perilaku anak bangsa, Islam adalah agama dengan pemeluk terbesar di Indonesia bahkan di dunia, memberikan dasar-dasar etika berbangsa, seperti difirmankan Allah subhanahu wata'ala dalam al-Qur’an:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ٢

Artinya: "Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa," (QS. al-Baqarah/2: 2).

Sebagai sebuah petunjuk ilahiyah, al-Qur’an memberikan arahan dalam kehidupan berbangsa. Arahan itu menjadi sumber inspirasi bagi semua anak bangsa, khususnya yang beragama Islam, dalam membangun hidup rukun, guyub, maju, berkembang pesat, dan bermartabat. Untuk bisa hidup rukun, guyub, gotong royong, Islam melalui kitab suci al- Qur’an menginspirasi agar kita membangun hidup bersaudara baik dengan sesama muslim ukhuwwah islamiyyah, sesama anak bangsa ukhuwwah wathaniyyah, dan sesama umat manusia ukhuwwah basyariyyah. Norma hidup rukun, guyub dan bersatu itu tersimpul dari Qur'an Surat al-Hujurat/49 ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS. al-Hujurat/49: 13).

Di dalam ayat itu terdapat ketiga bentuk persaudaraan yang kokoh kuat. Jadi, di dalam diri seorang Muslim terdapat sedikitnya tiga sikap dan tampilan yang kuat keislamannya, keindonesiaannya, dan keinternasionalannya. Banyak fakta di dunia internasional, bagaimana suatu negara gagal dan hancur terbelah bercerai berai karena hanya mengedepankan satu aspek saja dari ajaran persaudaraan itu. Hidup menjadi amat eksklusif, karena rentan terhadap segala bentuk disintegrasi bangsa.

Dalam membangun hidup rukun, guyub, bersatu itu, Al- Qur’an memberikan sejumlah norma, antara lain : tidak zalim, tidak membunuh, tidak berjudi, dan tidak mabuk, dan tidak korupsi. Pertama, norma yang berisi arahan bertingkah laku the code of conduct agar kita tidak berlaku zalim diingatkan Allah subhanahu wata'ala dalam QS. al-Mukmin/40 ayat 18 dan al-Hajj/22 ayat 71:

وَاَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْاٰزِفَةِ اِذِ الْقُلُوْبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كٰظِمِيْنَ ەۗ مَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ حَمِيْمٍ وَّلَا شَفِيْعٍ يُّطَاعُۗ ١٨

Artinya: "Berilah mereka peringatan akan hari yang makin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan (kesedihan). Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya)." (QS. al-Mukmin [40]: 18)

Kedua, tidak membunuh itu terdapat dalam QS. al- Maidah/5 ayat 32:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ ٣٢

Artinya: "Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.211) Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi." (QS. al-Maidah/5: 32)

Meskipun lafalnya menyebutkan untuk Bani Israil, tetapi maksudnya adalah berlaku umum bagi seluruh manusia di bumi ini. Tidak terkecuali kita, umat Islam bangsa Indoensia. Selain itu, al-Qur’an juga memberikan arahan yang menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan berbangsa yaitu,

Ketiga, tidak berjudi dan mabuk-mabukan – dalam konteks kekinian – penyalahgunaan narkoba, dalam QS. al- Maidah/5 ayat 90:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٩٠

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS. al-Maidah/5: 90).

Hal lain yang menginspirasi norma kehidupan berbangsa adalah ....

Keempat, pentingnya hidup tanpa korupsi yaitu memakan harta orang lain dengan cara yang batil sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Baqarah/2 ayat 188:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ ١٨٨

Artinya: "Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah/2: 188)

Semua ayat itu dimaksudkan – ada maqashid asy-syari’ah yang hendak dibangun – untuk terciptanya masyarakat Indonesia yang anggotanya terpelihara jiwa (hifzh an-nafs), akal, harta, agama, dan masyarakatnya dari segala yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita berharap dan meletakkan asa dan harapan yang kuat, bila semua arahan dalam al-Qur’an itu mengilhami dan menjadi sumber inspirasi dari semua anak bangsa dalam melaksanakan roda kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bisa dipastikan negara ini akan berjalan sesuai dengan tujuan awal pembentukannya yaitu sejalan dengan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta diilhami oleh bentuk negara yang baik dalam al-Qur’an baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (QS. Saba/34 ayat 15):

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ ١٥

Artinya: Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba/34: 15).

Negara di mana seluruh penduduknya beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'ala sehingga diperoleh keberkahan dari langit maupun bumi, seperti ditegaskan dalam QS. al-A’raf/7 ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦

Artinya: "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. al-A’raf/7 ayat 96)

 

Tags :

Related Posts: