Kajian Jumat Pilihan: Kewajiban dan Keutamaan Menuntut Ilmu - Kitab Nashoihud Diniyah wal Washoya Al-Imaniyyah

Keimanan saja tidak cukup, namun harus disertai dengan keilmuan-keilmuan yang meliputinya. Keilmuan Islam terdapat dalam karangan-karangan imam-imam fiqh radhiyallahu 'anhum.

Share :
Kajian Jumat Pilihan: Kewajiban dan Keutamaan Menuntut Ilmu - Kitab Nashoihud Diniyah wal Washoya Al-Imaniyyah
Artikel

Oleh : Drs. H.A. Dzulfatah Yasin, M.Ag


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Judul kajian dalam kitab adalah Bayanu Shihhati Tawqif Al-Iman. Mengenai keutamaan ilmu dan orang yang berilmu, disebutkan:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“ ... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat” (QS. Mujadalah/58 : 11).

Di ayat lain :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Artinya: Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. az-Zumar/39 : 9)

Allah ta’ala juga berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Artinya : “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Surat Fathir/35: 28).

Di Mukaddimah pembahasan penyusun kitab mendoakan semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan 'afiyah dan yakin. 'Afiyah nilainya lebih tinggi dari sehat. Sehat hanya terkait zhahir, sedangkan 'afiyah meliputi kesehatan zhahiran dan bathinan. Mudah-mudahan kita ditempatkan di jalan orang-orang yang menepati ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata'ala.

Bagi seorang muslim laki-laki dan perempuan harus memiliki ilmu. Tidak ada rukhshah, dispensasi untuk tidak mau atau meninggalkan belajar selama-lamanya. Maka setiap muslim baik laki laki-laki ataupun perempuan wajib untuk memiliki ilmu. Yang dimaksud ilmu yang wajib, adalah ilmu yang iman dan Islam kita tidak sah tanpa mengetahui ilmu itu. Ilmu yang menghantarkan kita kepada Allah dan memasrahkan diri kepada Allah. Sebuah ungkapan menyebutkan :

Artinya : “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalan-amalannya tertolak dan tidak diterima”.

Ilmu yang dimaksud adalah sebagaimana yang terdapat dalam rukun iman yang enam. Ilmu tentang mengenal Allah dan Rasul-Nya dan hari akhir. Juga ilmu tentang hal-hal yang diwajibkan Allah untuk mengerjakannya.

Pengetahuan tentang yang wajib ini meliputi yang wajib untuk dikerjakan dan juga yang wajib untuk ditinggalkan meliputi perkara-perkara yang haram atau larangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Artinya : Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah, dari sahabat Anas bin Malik).

Menuntut ilmu itu faridhah, wajib atas tiap muslim yang laki-laki ataupun perempuan. Sehingga tidak ada rukhshah bagi yang masih hidup untuk mempunyai ilmu untuk mengamalkan apa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan ada ungkapan hadis menyebutkan :

Artinya : “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”.

Cina adalah sebuah negeri yang jauh dari jazirah Arab, dan belum banyak orang sampai ke sana pada waktu itu karena letaknya sangat jauh. Ini adalah motivasi untuk terus belajar ke tempat sejauh apapun.

Apalagi apabila dalam menuntut ilmu itu tidak memerlukan banyak biaya dan banyak kesulitan besar. Ketika banyak majelis-majelis keilmuan yang tersebar dan mudah diakses, kesalahan sebagian orang adalah tidak menyediakan waktu untuk menuntut ilmu.

Adapun keilmuan Islam maka kembali kepada apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril 'Alaihi alaihis salam. Dalam hadis Malaikat Jibril mengatakan:

Artinya : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya”.

Hadis ini yang biasa kita kenal dengan rukun Islam. Kemudian Malaikat Jibril bertanya lagi,

Artinya : “Beritahukan kepadaku tentang Iman. Nabi menjawab, Iman adalah engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk”.

Hadis ini aslinya panjang, hanya penyusun kitab mencukupi dengan ringkasannya saja. Terambil dari riwayat Imam Muslim dalam Kitab Iman, diriwayatkan oleh 'Umar ibn Kaththab. Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah dengan makna yang sama.

Periwayatan hadis boleh dengan periwayatan dengan makna, namun periwayatan alQur’an harus lafazh dan makna.

Dari makna hadis ini mushanif menyimpulkan bahwa keilmuan Islam ada dalam dua kategori besar. Pertama, ilmu tentang hukum yang zhahir. Disebut juga ilmu al-jawarih. Yang dikenal dengan rukun Islam yang lima.

Kedua: Ilmu tentang hukum-hukum amal hati. Disebut juga ilmu 'amalul qulub. Yang dikenal dengan rukun iman yang enam.

Yang wajib adalah ilmu tentang akidah keimanan sebagaimana telah disusun para ulama umat Islam. Karangan bermanfaat para ulama telah menerangkan kadar-kadar yang wajib yang harus diketahui oleh seorang muslim. Keilmuan itu mampu untuk meneguhkan keimanan yang sudah dimiliki.

Keimanan saja tidak cukup, namun harus disertai dengan keilmuan-keilmuan yang meliputinya. Keilmuan Islam terdapat dalam karangan-karangan imam-imam fiqh radhiyallahu 'anhum.

Wajib bagi seorang beriman untuk kadar dirinya, mengetahui amalan-amalan yang dihadapinya. Sebagaimana shalat, maka pengetahuan, tentang syarat-rukun, perkara-perkara yang membatalkan, kaifiyyatnya menjadi ilmu yang wajib ketika seseorang akan melaksanakan shalat.

Dalam shalat juga termasuk tentang waktu-waktu pelaksanaannya. Begitu juga ilmu tentang zakat, tentang kadar yang diwajibkannya. Puasa, terkait dengan syarat rukunnya, Ramadhannya. Tentang haji, selain peraturan pelaksanaannya juga sampai batasan kapan seseorang dinyatakan wajib berhaji. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: