Hikmah: Wahai Manusia!

Wahai manusia, marilah kita mengatakan “aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”, dan meyakininya sepenuh hati. Wallaahu A’lam.

Share :
Hikmah: Wahai Manusia!
Artikel

Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Wahai manusia, Allah SWT telah membekalimu sebagai hamba-Nya dengan “manual book” berupa wahyu yang tersurat, yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul, dan juga wahyu yang tersirat berupa alam raya, bumi dan langit beserta semua isinya.

Al-Qur’anul Karim yang merupakan manual book terakhir yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir-Nya memuat berbagai aspek kehidupan, yang berfungsi sebagai petunjuk untukmu wahai manusia, agar dapat menjalani hidup dan mengelola bumi (khalifatu fil ardh) dengan sebaik-baiknya.

Jalani Hidup, Kelola Bumi dengan Sebaik-baiknya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ نُوْرًا مُّبِيْنًا

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran (Nabi Muhammad dengan mukjizatnya) dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an)." (QS. An-Nisa'/4:174).

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin” (QS. Yunus/10:57).

Sembahlah Allah subhanahu wata'ala dan Bertakwalah

Wahai manusia, sembahlah Tuhan yang menciptakan dan memelihara ras kalian, ras yang diturunkan dari nenek moyangmu Adam a.s, yang menciptakan seluruh manusia-manusia sebelum diutusnya Rasulullah SAW. sampai akhir zaman nanti, Allah SWT mengingatkanmu melalui firman-Nya: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah/2:21).

Bertakwalah dan Gunakan Akal untuk Merenungi Asal Muasal Penciptaan Manusia

Wahai manusia, berfikirlah, gunakan akalmu untuk merenungkan asal penciptaanmu, dan manusia-manusia sebelum kamu. Jika kamu wahai manusia berfikir, niscaya kamu akan menemukan bahwa kamu telah diciptakan dari ketiadaan menjadi ada. Wahai manusia, kamu akan ingat darimana kamu berasal, siapa nenek moyangmu.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu” (QS. An-Nisa'/4:1).

Maka bersyukurlah bahwa kamu telah diciptakan oleh-Nya, menyembahlah, bersujudlah hanya kepada-Nya, Allahu Rabb al-‘Aalamin yang telah menciptakan kamu dan nenek moyangmu.

Jangan Buat Tandingan Terhadap Allah subhanahu wata'ala

Dan janganlan kalian wahai manusia membuat tandingan bagi Allah SWT (na’udzubillah). Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa: “Dosa yang paling besar (adalah) engkau membuat tandingan bagi Allah, padahal Dia-lah yang menciptakanmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jauhi Langkah-langkah Setan

Wahai manusia, ingatlah bahwa Allah SWT telah memberimu rizki, menyediakan semua keperluanmu, membolehkanmu makan makanan yang “halal” dan “thayib” yang ada di bumi milik-Nya.

Ingatlah peringatan-Nya untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan, jangan mengikuti jalan makhluq yang telah dilaknat dan telah “menipu” nenek moyangmu dahulu, waspadalah terhadapnya. Allah SWT telah mengingatkamu dalam Al-Qur’an: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata” (QS. Al-Baqarah/2:168).

Makanlah Makanan yang Halal dan Baik

Maka, makanlah sebagian apa yang ada di bumi, termasuk binatang ternak, makananlah apa saja yang halal dan baik. Allah SWT menjelaskan jenis makan yang tidak dibolehkan (diharamkan), sebagaimana dalam firman-Nya: 

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Katakanlah, tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor, atau hewan yang disembelih bukan atas nama Allah” (QS. Al-An’am/6: 145).

Ikutilah Jalan yang Dituntunkan Para Nabi dan Rasul

Wahai manusia, janganlah menjadi manusia yang tersesat jalan, tidak mengikuti buku petunjuk (manual book) yang telah diturunkan. Ikutilah jalan para Nabi dan Rasul utusan Allah SWT, jadikanlah mereka “role model” dalam kehidupanmu. Allah SWT berfirman: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَكُمُ الرَّسُوْلُ بِالْحَقِّ مِنْ رَّبِّكُمْ فَاٰمِنُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗوَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang Rasul (Nabi Muhammad) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. Maka, berimanlah (kepadanya). Itu lebih baik bagimu. Jika kamu kufur, (itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya milik Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (QS. An-Nisa'/4:170).

Dalam ayat lain Allah berfirman: 

قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ۨالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, serta Yang menghidupkan dan mematikan. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) nabi ummi (tidak pandai baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Al-A'raf/7:158).

Wahai manusia, marilah kita mengatakan “aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”, dan meyakininya sepenuh hati. Wallaahu A’lam. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: