Hikmah: Pendidik Uswatun Hasanah

Ketauladanan adalah salah satu bentuk pendidikan terbaik. Maka perilaku pendidik akan ditiru.

Share :
Hikmah: Pendidik Uswatun Hasanah
Artikel

Oleh : Alfaqir Ahmad Mulyadi


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ketauladanan adalah salah satu bentuk pendidikan terbaik. Maka perilaku pendidik akan ditiru.

Dalam filosofi Jawa, kata "guru" terdiri dari dua kata, yaitu "digugu" dan "ditiru". "Digugu" artinya perkataannya harus bisa dipertanggungjawabkan, dipercaya atau dipatuhi, sementara "ditiru" artinya diikuti atau dijadikan tauladan atas perbuatannya, sikap dan perbuatannya dapat menjadi teladan bagi siswanya.

Seorang tokoh pendidikan nasional dan dikenal dengan Bapak Pendidikan Nasional ialah Ki Hajar Dewantoro menanamkan filosofi guru, yaitu 'Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karsa dan Tut wuri handayani' yang memiliki arti : didepan memberi teladan, ditengah membangun kemauan, dan dibelakang memberi dorongan.

Guru bukan saja bertugas sebagai pengajar yang memberi dan menyampaikan pelajaran atau pentrasfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, tentunya juga menjadi sosok pendidik sekaligus melatih, membimbing dan mengarahkan peserta didiknya agar dapat berakhlak mulia dan berpikir secara cerdas.

Apakah nilai-nilai idealisme ketauladanan sosok seorang guru, ustadz dan pendakwah masih bernilai sakral digugu dan ditiru atau sebaliknya digugat dan diburu.

Dalam Islam banyak sosok inspiratif sebagai pendidik, pembimbing dan tauladan agung baik dalam membentuk karakter pemuda harapan generasi penerus bangsa dan serta ummat idaman sebagaimana diuraikan dalam al-Quran yang menjadi prototipe ideal untuk masa kapan pun dan dimanapun yang akan selamat di dunia dan di akhirat.

Di antaranya baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang berbudi pekerti yang agung, dididik langsung oleh Allah dan akhlak beliau adalah al-Qur'an, dan Rasulullah adalah Al-Quran berjalan.

Beliau digelari dengan Uswatun Hasanah atau suri tauladan yang baik (QS. al-Ahzab [33] : 21), dalam berbagai aspek sebagai Rasul, pemimpin, kepala keluarga dan pribadi.

Bahkan beliau diakui sebagai sosok urutan pertama yang berpengaruh sepanjang sejarah manusia sebagai mana dalam buku 100 Most Influence People in the World karya Michael Harts.

Ada sosok Luqman Hakim diabadikan dengan penamaan surat dalam al-Quran (QS. Luqman [31]-Makiyah, 34 ayat) merupakan hamba Allah yang mulia dan terpilih sebagai contoh teladan dalam mendidik anak dengan metode pembelajaran learning by doing (belajar sambil melakukan).

Lukman Hakim mendidik anaknya melalui pembentukan iman, amal, dan akhlak atau budi pekerti yang baik.

Bahwa setiap amal yang tampak dan tidak tampak yang terlihat dan tersembunyi di langit dan di bumi pasti diketahui oleh Allah dan akan ada balasannya yan setimpal, dan landasan keimanan yang benar amat sangat berpengaruh terhadap arah dan tujuan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Selanjutnya sosok Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang dikenal dengan sebutan Bapak Para Nabi karena 19 keturunannya menjadi Nabi dari 25 Nabi yang disebutkan dalam al-Qur'an, dan termasuk Nabi Muhammad dari jalur putra beliau Nabi Ismail, beliau dikenal sebagai khalilullah atau kekasih Allah dan pribadi yang hanif atau lurus, juga menjadi suri tauladan yang baik untuk dicontoh (QS. al-Mumtahanah [60] : 4 dan 6).

Pencarian tentang Tuhan dan ketauhidan, perjalanan panjang perjuangan hidup dan ketabahan Nabi Ibrahim telah diabadikan dalam al-Qur’an yang akan dibaca kaum muslimin hingga hari kiamat, dan ditulis dengan tinta emas di dalam buku-buku sejarah.

Demikian diantara pendidik uswatun hasanah yang menjadi referensi terbaik untuk kita teliti, pahami secara seksama dan patut ditiru, yang tidak pernah lekang oleh waktu dan sangat bernilai luhur dan agung. Wallahu ’alam bisshawwab. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: