Hikmah: Meraih Kesempurnaan dan Manisnya Keimanan

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta. Kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa”.

Share :
Hikmah: Meraih Kesempurnaan dan Manisnya Keimanan
Artikel

Oleh : Hendra Sofiyansyah, S.Sos

Dalam berbagai atsar dan riwayat banyak diterangkan ciri utama orang yang akan meraih kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana yang terdapat di dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya serta (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasulnya”.

Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan menganganangankan sesuatu (selain keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan untuknya”. Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah Ta’ala berlakukan bagi hamba-Nya. Ada pelajaran berharga dan hikmah yanng dapat kita petik diantaranya :

1. Bersandar dan berserah diri kepada Allah Ta’ala adalah sebaikbaik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya. Allah subhanahu wata'ala berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. ath-Thalaaq/ 65: 3).

2. Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah Ta’ala bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepadaNya dan ini merupakan sebab utama Allah Ta’ala akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutamaan bagi setiap hamba-Nya.

3. Takdir yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan dan lain sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut.

4. Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi berkata, ”Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah Ta’ala, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah Ta’ala.

5. Orang yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan baginya untuk meraih ketakwaan dan kedekatan di sisi-Nya, maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”, dan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta. Kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa”. Seorang ulama mengatakan “Kekayaan adalah soal rasa dan bukanlah angka”. Wallahu a’lam bisshawwab.

Tags :

Related Posts: