BPMI Selenggarakan Global Interfaith Dialogue, Bahas Diplomasi Keagamaan untuk Kedamaian Global dan Kemanusiaan

Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) melaui bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat menyelenggarakan kegiatan Global Interfaith Dialogue dengan tema bahasan "Religious Diplomacy for Humanity and Global Peace", di Ruang VIP Masjid Istiqlal, Jakarta.

Share :
BPMI Selenggarakan Global Interfaith Dialogue, Bahas Diplomasi Keagamaan untuk Kedamaian Global dan Kemanusiaan
Berita

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) melaui bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat menyelenggarakan kegiatan Global Interfaith Dialogue dengan tema bahasan "Religious Diplomacy for Humanity and Global Peace", di Ruang VIP Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (22/11).

"Dengan berlangsungnya kegiatan ini, dua target kita (dalam pembahasan ini), pertama kita ikut memberikan konsep yang dimaksud dengan relegious diplomacy dan seberapa besar perananannya di masa depan, dan kita turut proaktif menciptakan lembaganya," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dalam sambutannya, di Ruang VIP Masjid Istiqlal, Jakarta.

Menghadiri kegiatan dengan membahas relegious diplomacy, President of Civilizations Exchange & Cooperation Foundation - CECF Imam Mohamad Bashar Arafat juga sepakat, bahwasanya diplomasi kegamaan bukan hanya sebagai anugerah dari Allah SWT, melainkan juga merupakan kemampuan khusus tersendiri yang perlu dipelajari.

Kegiatan ini juga turut diikuti oleh tokoh-tokoh agama sebagai narasumber, di antaranya Komisi Perdamaian dan Keadilan Romo Agustinus Heri Wibowo, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Jimmy Immanuel Sormin, Wali Umat Budha Indonesia (WALUBI) Romo Asun, dan Perisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tanaya, dan Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia Budi Santoso Tanuwibowo.

Mendukung kedamaian dunia, Pendeta Jimmy juga menyampaikan bahwa dirinya setuju untuk mengadakan kolaborasi untuk menciptakan kedamaian di dunia ini. "Karena sebagaimana Islam yang menunjukkan dirinya sebagai agama yang penuh cinta, kami juga ingin memperkenalkan bahwa umat kristiani juga penuh cinta, dan juga itu merupakan prinsip dasar. Untuk itu kami ingin menumbuhkan dan mengembangkan hal tersebut."

Di sisi lain, Mayjen TNI (Purn) Wisnu juga mengingatkan bahwasanya keanekaragaman kita di Indonesia adalah bagian dari keindahan hidup yang dijalani. Oleh karenanya, dia berpesan agar masyarakat selalu mengingat sejarah. "Kita satu saudara di muka bumi ini, maka kita mengajak semuanya untuk berkomunikasi, bersilaturahmi. Dengan pancasila yang kita miliki, dengan agama yang beraneka ragam, seperti itulah keindahan kita.

Seimbang dengan Pendeta Jimmy, Romo Asun juga mengambil gambaran terkait agama untuk kemanusiaan bisa kita lihat secara langsung di Indonesia. "Atas kejadian gempa yang terjadi kemarin di Cianjur, Jawa Barat, kita dapat melihat dengan jelas bahwa (ketika) saudara-saudara kita membantu semua korban di sana tanpa bertanya 'apa agamamu?' Melainkan semua langsung turut membantu. Jadi jelas bahwasanya agama untuk kemanusiaan bisa kita lihat secara riil."

"Kita di Indonesia, bersyukur, karena dalam keanekaragaman kita bisa tetap hidup rukun dan damai," lanjut Romo Asun.

Terkait diplomasi keagamaan, Budi Santoso juga menjabarkan bahwasanya terdapat tiga prinsip yang perlu terus diingat ketika membangun diplomasi keagamaan, di antaranya keadilan, kesejahteraan, dan pendidikan yang merata bagi seluruh umat beragama. "Topik ini tepat dibahas karena memang agama diturunkan ke muka bumi untuk kemanusiaan dan perdamaian."

Dihadiri secara hybrid, kegiatan ini turut dihadiri mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) dan diunggah ke laman YouTube Masjid Istiqlal TV, selengkapnya tonton di sini.  (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Tags :

Related Posts: