Ma'rifatullah sebagai Landasan Ketakwaan Umat

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allah azza wa jalla, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba tersebut kepada-Nya."

Share :
 Ma'rifatullah sebagai Landasan Ketakwaan Umat
Artikel

Oleh: KH Munahar Muchtar H.S.

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ma'rifatullah secara bahasa berarti mengenal Allah subhanahu wa ta'ala. Mengenal Allah dan mencintai-Nya merupakan kewajiban dan tuntutan yang paling utama dalam Islam.

Dalam kaitan ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allah azza wa jalla, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba tersebut kepada-Nya."

Pengetahuan yang diperoleh ini nantinya akan melahirkan perasaan malu, mengagungan, pemuliaan, merasa selalu diawasi, cinta, tawakal, selalu ingin kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya.

Dalam sumber lain disebutkan bahwa Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah mengatakan, bahwa semakin banyak pengetahuan seseorang tentang Allah subhanahu wa ta'ala, maka rasa takut menjadikannya selalu menjauh dari perbuatan-perbuatan maksiat, karena senantiasa mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang dicintainya. 

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, diantaranya sebagai berikut.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlaj kami mati kecuali dalam keqeaan muslim." (QS. Ali Imran [3]: 102)

Artinya: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu." (QS. Al-Hijr [15]: 99)

Artinya: "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semat-mata karena (menjalankan) agama..." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Ma'rifatullah merupakan puncak kesadaran yang menentukan perjalanan hidup seorang hamba menuju Tuhannya. Dengan ma'rifatullah, seorang hamba dapat mengetahui tujuan hidup yang sesungguhnya.

Ma'rifatullah adalah asas perjalanan ruhiyyah manusia secara keseluruhan. Orang yang mengenal Allah subhanahu wata'ala akan merasakan hidupnya lapang, tenang, dan dia hidup dalam rentangan panjang antara sabar dan syukur.

Puncak ilmu adalah mengenal Allah subhanahu wata'ala. Seorang dikatakan sukses dalam belajar atau menuntut ilmu apabila diantaranya semakin mengenal dan semakin dekat kepada Allah subhanahu wata'ala. Sehingga sekolah tinggi, segudang gelar prestisius, harta melimpah dan jabatan yang tinggi, seharusnya dijadikan oleh seorang hamba sebagai sarana yang membuatnya semakin dekat, semakin kenal, dan semakin taat kepada Allah subhanahu wata'ala. 

Ma'rifatullah adalah nikmat yang sangat besar. Mengenal Allah subhanahu wata'ala akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah subhanahu wata'ala kita akan merasa ditatap, didengar dan diperhatikan oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga langkah dan gerak kita terarah pada jalan yang dikehendaki Allah subhanahu wata'ala. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya.

Dengan Ma'rifatullah hidup menjadi tenang, teraraj, ringan dan bahagia. Sebaliknya jika kita jauh dari Allah subhanahu wata'ala, hidup akan terasa berat, sempit, sengsara, tenggelam dalam lumpur dosa, dan terus menerus hidup dalam rentang waktu dan ruang kehinaan.

Allah berfirman dalam QS Thaha [20]: 124, artinya sebagai berikut.

Artinya: "Barang siapa yang berpaling dari peringatanku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan akan kami bangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS Thaha [20]: 124).

Ciri orang yang mengenal Allah subhanahu wata'ala ('arif billah) adalah bahwa dirinya tidak takut dan tidak bersedih hati dengan urusan duniawi. Karena itulah maka kualitas makrifat seseorang dapat diukur saat ada rasa cemas dan takut kehilangan dunia. Orang yang makrifat, susah senangnya tidak diukur oleh ada tidaknya dunia, tetapi diukur oleh kedekatan dirinya dengan Allah subhanahu wata’ala.

Orang yang makrifat akan senantiasa menjaga kualitas ibadahnya. Karena dengan terjaganya ibadah, akan mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan dalam hidup, di antaranya keseharian hidupnya selalu berada di jalan yang benar, memiliki kekuatan dalam menghadapi cobaan hidup, Allah subhanahu wata’ala akan selalu memberikan karunia keberkahan dalam hidupnya, selalu merasakan manis batin dalam menghadapi pahitnya kehidupan, memiliki kendali penuh dalam hidup, selalu berada dalam bimbingan dan pertolongan Allah subhanahu wata’ala, dan memiliki ruhiyyah imaniyah yang kuat.

Adapun sarana yang dapat mengantarkan seorang hamba pada ma'rifatullah di antaranya adalah dengan akal sehat (al-'aqlussalim). Akal sehat manusia jika digunakan untuk memikirkan dan merenungkan apa yang ada di sekelilingnya dari ciptaan Allah, dapat menjadikan pemiliknya sampai pada ma'rifatullah yang sempurna. 

Al-Qur'an menjelaskan dalam berbagai ayat tentang pengaruh perenungan makhluk sebagai sarana pengenalan kepada Sang Khalik. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 190-191, artinya sebagai berikut.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali Imran [3]: 190-191).

Senada dengan firman Allah subhanahu wata'ala, Rasulullah SAW bersabda,

Artinya: "Berfikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan janganlah berfikir tentang Dzat Allah." (HR Abu Nu'aim)

Kemudian, sarana lain yang tidak kalah pentingnya dalam mengenal Allah subhanahu subhanahu wata’ala adalah dengan mengenali nama dan sifat Allah subhanahu wata’ala, disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini.

Cara tersebut yang Allah subhanahu wata’ala gunakan untuk memperkenalkan dirinya kepada makhluk-Nya. Dengan asma' dan sifat ini terbukalah jendela bagi manusia untuk mengenali Allah subhanahu wata’ala lebih dekat lagi.

Asma' dan sifat Allah subhanahu wata’ala akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyajikan pancaran cahaya Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam QS Al-Isra [17]: 110, artinya sebagai berikut.

"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS Al-Isra [17]: 110)

Dalam kaitannya dengan hati, bahwa hati manusia ada tiga bagian, di antaranya sebagai berikut.

1. Hati yang Mati

Hati yang mati yaitu hati orang-orang kafir yang menolak setiap kebenaran yang haq, menolak Al-Qur'an, menolak as-sunnah dan tidak percaya adanya Allah subhanahu wata’ala dan tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir.

2. Hati yang Sakit 

Hati yang sakit yakni hatinya orang-orang munafik. Ia muslim, tapi kadangkala menolak ajaran Islam yang hakiki dan selalu bertentangan dengan perintah dan larangan Allah subhanahu wata'ala yang termaktub dalam Al-Qur'an dan as-sunnah. 

Namun, orang yang "berhati sakit" ini dapat diobati dengan kesadaran diri orang tersebut, lalu ia kembali ke jalan yang benar dengan selalu dekat dan terus belajar serta mendengarkan nasihat dari para ulama dan orang-orang salih.

3. Hati yang Tenang

Pada kategori ketiga ini, hati yang tenang dianugerahi Allah subhanahu wata’alakepada orang-orang yang beriman dan senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan as-sunnah, dinta kepada para ulama dan orang-orangdalih serta selalu mendengarkan nasihat-nasihat dari mereka. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)


Related Posts: