Jakarta, Istiqlal.or.id - Dalam memperingati malam Nuzulul Qur’an dengan tema “Jembatan Harmoni Peradaban”, Kegiatan ini menghadirkan tokoh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan penceramah Tionghoa Muslim untuk membahas nilai-nilai Al-Qur’an, serta pembagian wakaf 3,200 Al- Qur’an dari PITI. Kegiatan ini berlangsung di Selasar Ar-Razaq, Masjid Istiqlal Jakarta, pada Minggu (9/3/2026).
Acara ini dihadiri oleh Tio Iskandar Chang, Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, dan Ustadz Muhammad Utsman Anshori (Koko Liem), seorang pendakwah sekaligus hafidz Al-Qur’an dari komunitas Tionghoa.
Sebagai pembuka rangkaian acara, panitia menghadirkan penampilan seni bela diri dari Tim Shaolin yang berhasil memukau seluruh hadirin. Tim Shaolin hadir atas kolaborasi Shaolin Indonesia bersama The Voist Istiqlal dan China Space dalam program belajar Shaolin Qigong dan Taijiquan di Masjid Istiqlal.
Tio Iskandar Chang, membuka pemaparan dengan mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]:13)
Ayat tersebut memerintahkan manusia untuk saling mengenal lintas suku dan bangsa. Ia menarik benang merah antara ajaran Islam dan nilai-nilai Konfusianisme, khususnya prinsip bahwa “setiap orang di empat samudra adalah bersaudara”.
Tio Iskandar Chang menuturkan perjalanan panjang Islam di Tiongkok, yang telah berkembang sejak zaman Dinasti Tang dan Ming, salah satunya melalui Laksamana Cheng Ho yang berdakwah melalui jalur perdagangan dan transfer ilmu pengetahuan, mulai dari teknik bertani, pembuatan kapal, hingga navigasi laut kepada masyarakat Nusantara.
Ia juga menyoroti berdirinya Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pada tahun 1962 sebagai wadah resmi bagi Muslim Tionghoa di Indonesia.
Dalam pandangannya, ada titik temu yang kuat antara nilai Islam dan budaya Tionghoa. Di bidang etika, keduanya menekankan budi pekerti (akhlakul karimah dalam Islam, run dan li dalam Konfusianisme).
Di bidang sosial, gotong-royong dalam budaya Jawa-Islam sejajar dengan prinsip harmoni sosial (he) dalam tradisi Tionghoa. Di bidang ekonomi, etos kerja keras, kejujuran, dan membangun kepercayaan (guanxi) menjadi nilai bersama yang mendorong kemajuan.
Tio Iskandar Chang juga menekankan pentingnya membedakan “peristiwa beragama” dan “keyakinan beragama”. Menurutnya, tindakan-tindakan kemanusiaan seperti berbagi makanan, membantu korban bencana, dan memfasilitasi pendidikan adalah peristiwa beragama yang bisa dilakukan oleh siapapun, lintas agama dan suku.
“Nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan harus berjalan simultan,” tegasnya.
Menutup pemaparannya, ia menggarisbawahi bahwa Islam wasatiyyah (jalan tengah) memiliki kesepadanan dengan konsep Jungyung dalam filsafat Konfusianisme yakni prinsip jalan tengah yang juga mempengaruhi kebijaksanaan budaya Jawa. “Bukan perbedaan yang harus dikedepankan, melainkan persamaan, sehingga kita bisa bekerja sama,” ujarnya.
Di tengah sesi dialog, dua momen istimewa menyapa para jamaah. Pertama, Pemerintah Daerah DKI Jakarta menyerahkan secara simbolis paket berbuka puasa kepada jamaah Masjid Istiqlal. Penyerahan dilakukan kepada K.H. Abu Hurairah selaku perwakilan masjid, disaksikan langsung oleh seluruh hadirin di tengah suasana yang penuh keharuan.
Tak lama berselang, Saudi Airlines turut berpartisipasi dengan menyerahkan ribuan paket nasi kotak kepada jemaah. Dalam sambutannya, perwakilan Saudi Airlines, Andri, menyampaikan bahwa kegiatan iftar bersama ini sudah berlangsung untuk ketiga kalinya sejak 2024, sebagai wujud komitmen maskapai penerbangan nasional Arab Saudi tersebut dalam berbagi keberkahan Ramadhan bersama masyarakat Indonesia. Saudi Airlines melayani rute ke lebih dari 100 destinasi dunia, termasuk Jakarta dan Denpasar, Bali.
Ustadz Muhammad Utsman Anshori atau Koko Liem, seorang asli keturunan Tionghoa mengungkapkan perjalanan rohaninya masuk Islam pada tahun 1994 ketika masih duduk di kelas 3 SMP.
“Saya jatuh cinta pada Islam salah satunya karena kagum melihat teman-teman Muslim yang bisa membaca Al-Qur'an," ungkapnya.
Sebelum resmi bersyahadat, ia bahkan sudah belajar Iqra secara otodidak. Meski awalnya kesulitan dengan pelafalan huruf Arab terutama huruf 'R' yang memang sulit bagi penutur Tionghoa, ia tak pernah menyerah. Delapan hari setelah masuk Islam, ia sudah mampu membaca Al-Qur’an walau masih tertatih.
Perjalanan akademisnya dalam mempelajari Al-Qur’an pun luar biasa. Setelah menimba ilmu di pesantren alumni Gontor untuk menguasai bahasa Arab, ia melanjutkan ke pesantren tahfidz di Malang, Jawa Timur, dan dalam 1 tahun 8 bulan berhasil menghafal 30 juz Al-Qur'an. Ia kemudian meraih gelar S1 dan S2 di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ), di mana Imam Besar Istiqlal Prof. Nasaruddin Umar merupakan rektornya.
Dalam sesinya, Koko Liem memperkenalkan metode “5M” untuk membumikan Al-Qur'an: Membaca, Memahami, Menghafal, Mengamalkan, dan Mengajarkan. Metode ini menjadi moto pesantren tahfidz Al-Qur'an yang sedang ia bangun di Bandung Selatan. Ia menekankan bahwa kunci menghafal adalah membaca dengan tajwid dan makharijul huruf yang benar terlebih dahulu, sebelum melangkah ke hafalan.
Koko Liem yang dikenal sebagai “ustaz ilusionis” ini juga memukau hadirin dengan atraksi sulap yang ia gunakan sebagai media dakwah, menggantikan mantra dengan selawat dan ayat Al-Qur'an. Ia menutup penampilan dengan pesan motivasi tentang pentingnya mengubah “sukses” menjadi “berkah” melalui konsistensi shalat dan sedekah.
Sebagai puncak kegiatan, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) secara resmi mewakafkan sebanyak 3.200 eksemplar Al-Qur'an. Ini merupakan wujud nyata dari semangat “sukses diubah menjadi berkah” yang menjadi benang merah dakwah komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia mengintegrasikan keberhasilan ekonomi dengan kepedulian sosial dan keagamaan.
Menutup rangkaian acara, moderator Elvi Hudriah menyampaikan kesimpulan yang menggugah: “Al-Qur'an adalah jembatan, bukan penyekat. Peristiwa Nuzulul Quran mengingatkan kita bahwa wahyu hadir untuk merangkul identitas, bukan menghapusnya. Menjadi Muslim tidak membuat seseorang berhenti menjadi Tionghoa. Justru Islam memperkaya nilai kemanusiaan.”
(Tim Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.