Dalam membuka ceramahnya KH. Mulawarman Hannase menyampaikan duka mendalam atas eskalasi konflik yang melibatkan negara-negara besar dan mengakibatkan gugurnya tokoh-tokoh Islam.
Beliau mengingatkan bahwa peperangan yang terjadi di Sudan, Yaman, hingga Suriah adalah luka besar bagi tubuh umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Artinya: Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil. (Qs Al-Ḥujurāt [49]:9)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]:10)
Meskipun pada kenyataannya, realitas menunjukkan sebaliknya bahwa ego dan kepentingan politik seringkali menutup jalan persaudaraan tersebut. Bahaya akan provokasi fitnah yang menjadi sumbu pertikaian antar negara Muslim, seperti dunia barat dengan timur, mengingatkan kita pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya: Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Maha Keras hukuman-Nya. (Qs Al-Anfāl [8]:25)
Adapun menyikapi fitnah yang ada agar kita tidak saling menyerang saudara sesama muslim, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Artinya: Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) ma'ruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs At-Taubah [9]:71)
KH. Mulawarman Hannase mengutip seruan Syekh Al-Azhar tentang “Dusturul Qiblah” atau Konstitusi Kiblat. Bahwasanya selama seseorang menghadap ke kiblat yang sama dan menyembah Tuhan yang sama, maka darah dan kehormatannya adalah haram untuk ditumpahkan.
“Kita ini semuanya satu kiblat, satu Tuhan, satu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kenapa kita harus berperang? Kenapa kita harus saling membunuh? Umat Islam itu terlepas dia Syiah, dia Sunni, dengan berbagai macam aliran-aliran, kita itu satu qiblah,” tegasnya.
Bahkan lebih dari itu, agama-agama Samawi pun pada hakikatnya bersaudara. Kiblat pertama umat Islam adalah Baitul Maqdis di Palestina, Yerusalem, Al-Quds sebelum kemudian Allah perintahkan dalam firman-Nya:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Qs Al-Baqarah [2]:144)
Maka dari itu, kita bersyukur sedalam-dalamnya atas nikmat keamanan di Indonesia. Dan beliau menutup ceramahnya dengan pesan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk meniru sifat-sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta melatih diri untuk menahan amarah dan ego pribadi demi kemaslahatan umat.
Maka marilah kita manfaatkan momentum Ramadhan ini untuk berdoa mendoakan saudara-saudara kita agar segera terlepas dari fitnah yang membelenggu mereka, mendoakan agar Indonesia senantiasa terlindungi dari perpecahan, dan mensyukuri nikmat damai yang tidak semua umat Islam di dunia bisa merasakannya malam ini.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. (Qs Al-Ḥujurāt [49]:10)
(TANZA HERUL/ Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.