Oleh: Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D.
(Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Jemaah Jumat Rahimakulullah Segala puji dan syukur hanya milik Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menebar nilai-nilai keislaman. Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya dalam ibadah ritual semata, tetapi juga harus tercermin dalam kehidupan sosial, bermasyarakat, dan bernegara.
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu. Allah Swt. berfirman: ً
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ
“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (QS. Āli 'Imrān [3]: 97)
Ayat tersebut menegaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan ibadah agung yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan moral. Ibadah ini telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalām dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai bagian dari penyempurnaan ajaran Islam.
Karena itu, setiap muslim yang berhaji tentu berharap memperoleh predikat haji mabrur. Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda:
“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan haji mabrur di sisi Allah Swt. Namun, kemabruran haji tidak hanya diukur dari sempurnanya pelaksanaan ritual di Tanah Suci, melainkan dari perubahan sikap dan perilaku setelah seseorang kembali dari ibadah haji. Beberapa indikator seseorang dapat dikatakan haji mambur.
Pertama, meningkatnya kedekatan kepada Allah.
Indikator pertama haji mabrur adalah semakin kuatnya hubungan seorang hamba dengan Allah Swt. Orang yang hajinya mabrur akan lebih rajin melaksanakan salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan menjaga keikhlasan dalam ibadah. Haji melatih manusia untuk tunduk dan patuh kepada Allah secara totalitas.
Allah Swt. berfirman:
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ
"Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (QS. al-Baqarah [2]: 196)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh proses haji harus dilandasi niat yang ikhlas karena Allah. Kemabruran haji akan tampak dari ketakwaan dan kesadaran spiritual yang semakin meningkat setelah pulang dari Tanah Suci.
Kedua, perubahan akhlak menjadi lebih baik.
Haji mabrur juga ditandai dengan akhlak yang semakin mulia. Orang yang berhaji hendaknya menjadi pribadi yang santun, sabar, jujur, dan rendah hati. Selain itu, akhlak yang lebih baik tercermin dengan tidak mudah marah, namun mudah memaafkan atas kesalahan-kesalahan orang lain kepadanya.
Allah Swt. berfirman:
فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ
“Maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa haji.” (QS. al-Baqarah [2]: 197)
Ayat ini mengajarkan bahwa haji bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga pendidikan akhlak. Kemabruran haji tercermin ketika seseorang mampu menjaga lisannya, emosinya, dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullahصلى الله عليه وسلم juga bersabda: ُ
“Barang siapa berhaji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa haji yang benar akan membersihkan dosa dan membentuk pribadi yang lebih baik.
Ketiga, memperkuat kepedulian sosial. Indikator berikutnya adalah meningkatnya kepedulian terhadap sesama manusia. Haji mabrur tidak melahirkan kesombongan sosial, melainkan rasa empati dan semangat berbagi kepada orang lain. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya tentang tanda haji mabrur, beliau bersabda: ْ
“Memberi makan dan berkata baik.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa kemabruran haji terlihat dari hubungan sosial yang baik, suka membantu, menolong orang lain, dan menjaga tutur kata yang santun. Orang yang hajinya mabrur akan lebih peduli terhadap fakir miskin, tetangga, dan masyarakat sekitarnya.
Keempat, menghormati orang tua dan keluarga. Nilai haji juga tercermin dalam kehidupan keluarga. Setelah berhaji, seseorang seharusnya semakin menghormati orang tua, menyayangi keluarga, dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Allah Swt. berfirman:
وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا
“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. al- Baqarah [2]: 83)
Haji mengajarkan kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan. Nilai-nilai tersebut seharusnya tercermin dalam hubungan keluarga dan kehidupan sosial sehari-hari.
Kelima, menjaga alam dan lingkungan.
Ibadah haji juga mengandung pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan dan tidak merusak alam semesta. Dalam keadaan ihram, jamaah haji dilarang merusak tumbuhan dan membunuh hewan tertentu sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan. Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A'rāf [7]: 56)
Karena itu, haji mabrur juga ditandai dengan tumbuhnya kesadaran ekologis, menjaga kebersihan, serta memelihara alam sebagai amanah dari Allah Swt.
Keenam, menumbuhkan persaudaraan dan toleransi. Haji mempertemukan jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama sebagai simbol persamaan derajat di hadapan Allah. Hal ini mengajarkan pentingnya persaudaraan dan toleransi. Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. al-Ḥujurāt [49]: 10)
Seorang haji yang mabrur akan lebih menghargai perbedaan, menghindari permusuhan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah maupun persaudaraan kemanusiaan. Haji mabrur bukan sekadar simbol atau gelar sosial, melainkan perubahan nyata dalam kualitas iman, akhlak, dan kepedulian sosial seseorang.
Kemabruran haji harus tercermin dalam hubungan kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta. Orang yang hajinya mabrur akan menjadi pribadi yang lebih bertakwa, berakhlak mulia, peduli sosial, menjaga lingkungan, dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Semoga seluruh jemaah haji dan kita semua dimudahkan untuk melaksanakan ibadah haji dan memperoleh haji yang mabrur serta mampu mengaktualisasikan nilai-nilai ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.