Oleh: Dr. H. Yasardin, S.H., M.Hum.
(Ketua Muda Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia)
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam kepada kita. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari segala keburukan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk dalam urusan bekerja dan mencari rezeki.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Kita mengerti, bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga menuntun kita dalam bekerja. Dalam Islam, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi bagian dari ibadah. Maka dari itu, Islam mengajarkan etos kerja Islami, yaitu semangat bekerja yang dilandasi iman, kejujuran, tanggung jawab, dan ketaatan kepada hukum-hukum Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]:105)
Ayat tersebut menegaskan bahwa dalam Islam, bekerja dan beramal bukanlah sekadar aktivitas duniawi, melainkan bagian dari tanggung jawab spiritual seorang hamba kepada Allah. Perintah “Bekerjalah!” menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk aktif, produktif, dan bersungguh-sungguh dalam setiap usaha.
Lebih dari itu, ayat tersebut juga menanamkan kesadaran bahwa setiap amal akan disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, sehingga pekerjaan tidak boleh dilakukan secara asal-asalan, melainkan dengan penuh kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Jadi, seluruh amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi.
Di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Az-Zalzalah [99]:7)
Ayat ini memperkuat prinsip bahwa Islam sangat memperhatikan setiap amal, sekecil apa pun nilainya. Tidak ada satu pun perbuatan yang sia-sia di sisi Allah, bahkan kebaikan seberat zarah pun akan mendapatkan balasan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam membangun etos kerja yang tinggi, di mana setiap usaha, sekecil apa pun, memiliki makna dan nilai di hadapan Allah.
Sehingga, seorang Muslim dituntut untuk senantiasa berbuat baik dalam setiap pekerjaan, menjaga kualitas amal, serta tidak meremehkan hal-hal kecil, karena semuanya akan diperhitungkan dan menjadi bagian dari pertanggungjawaban di akhirat.
Jamaah yang dirahmati Allah. Etos kerja Islami bukan sekadar seperangkat nilai moral, melainkan sebuah jalan hidup yang menyatukan ikhtiar duniawi dengan orientasi ukhrawi. Ia membentuk cara pandang seorang muslim terhadap pekerjaan. Bahwa pekerjaan bukan hanya sebagai sarana mencari nafkah, tetapi juga sebagai ladang ibadah dan bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk membentuk etos kerja Islami, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, niat yang lurus (ikhlas)
Segala amal dalam Islam sangat ditentukan oleh niat yang melatarbelakanginya. Pekerjaan apa pun, sekecil apa pun, dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Sebaliknya, pekerjaan yang tampak besar bisa kehilangan maknanya jika dilakukan dengan niat yang keliru. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Artinya: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Niat yang benar menjadikan pekerjaan tidak lagi sekadar rutinitas yang dijalani demi kewajiban atau tuntutan hidup, tetapi berubah menjadi jalan pengabdian yang sarat makna. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap jerih payah dipersembahkan sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kesadaran ini, pekerjaan menjadi bagian dari dzikir yang hidup, menghubungkan aktivitas dunia dengan tujuan akhirat. Apa yang tampak biasa di mata manusia, menjadi luar biasa di sisi Allah karena dilandasi keikhlasan.
Keikhlasan dalam niat juga menghadirkan ketenangan batin yang mendalam. Hati menjadi jernih, tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian manusia. Pujian tidak membuatnya lalai, dan celaan tidak menjadikannya lemah. Ia bekerja bukan untuk dilihat, tetapi untuk dinilai oleh Allah Yang Maha Mengetahui isi hati. Dalam keheningan niat itulah tumbuh kekuatan spiritual yang menjaga konsistensi dalam kebaikan, bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang menyaksikan.
Lebih dari itu, niat yang lurus menumbuhkan keteguhan dan keistiqamahan dalam menjalani pekerjaan. Dengan niat yang lurus, seorang muslim akan tetap berbuat baik, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam suasana dihargai maupun diabaikan. Ia memahami bahwa nilai sejati dari pekerjaannya tidak terletak pada pengakuan manusia, tetapi pada ridha Allah. Dengan demikian, pekerjaan menjadi sarana penyucian jiwa, membentuk pribadi yang sabar, tulus, dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya.
Kedua, kejujuran dan amanah
Kejujuran adalah fondasi utama dalam etos kerja Islami. Amanah berarti menjalankan tanggung jawab dengan penuh integritas, tidak menyalahgunakan kepercayaan dan tidak berkhianat terhadap tugas. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, amanah tidak lagi hanya dipahami sebagai kewajiban moral, tetapi juga tercermin dalam sikap profesional yang utuh. Ia tampak dalam kedisiplinan, ketepatan waktu, komitmen terhadap standar kerja, serta kesungguhan dalam menunaikan setiap tanggung jawab.
Transparansi menjadi bagian penting dari amanah, tidak ada yang disembunyikan demi keuntungan pribadi, tidak ada manipulasi demi citra semu. Semua dilakukan dengan kejujuran yang lahir dari kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan.
Seorang muslim yang memegang teguh amanah tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga menjaga kualitas dan integritas dalam setiap prosesnya. Ia berusaha memberikan hasil terbaik, bukan sekadar memenuhi kewajiban minimum. Dalam setiap detail pekerjaan, ia menghadirkan nilai ihsan, berbuat sebaik mungkin seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu, meyakini bahwa Allah melihatnya. Dari sinilah lahir etos kerja yang tidak hanya unggul secara profesional, tetapi juga bernilai spiritual.
Dengan demikian, amanah menjadi kekuatan yang menjaga seseorang tetap lurus di tengah berbagai godaan dunia kerja. Ia tidak mudah tergelincir oleh peluang kecurangan, tidak tergoda oleh keuntungan instan yang melanggar nilai kebenaran. Sebaliknya, ia menjadikan pekerjaannya sebagai sarana meneguhkan karakter, memperkuat kepercayaan, dan menebarkan kebaikan. Inilah wujud nyata bahwa seorang muslim tidak hanya bekerja dengan tangan dan pikiran, tetapi juga dengan hati yang terikat kepada Allah.
Ketiga, produktif dan bersungguh-sungguh (itqan)
Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dan tidak bermalas-malasan. Waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Allah berfirman:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
Artinya: “Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)”(QS. Al-Insyirah: 7)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh berpuas diri pada satu pencapaian, sekecil atau sebesar apa pun itu. Setiap keberhasilan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab berikutnya. Dalam semangat ini, hidup dipahami sebagai rangkaian ikhtiar yang berkelanjutan, dari satu kebaikan menuju kebaikan yang lain, dari satu amal menuju amal berikutnya.
Kesadaran tersebut menumbuhkan etos kerja yang dinamis dan penuh semangat. Bahwa seorang muslim tidak larut dalam rasa puas yang melemahkan, tetapi terus mengasah diri, memperbaiki kualitas amal, dan memperluas manfaat bagi sesama. Ia menyadari bahwa waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan, sehingga setiap detik diupayakan bernilai dan bermakna.
Prinsip ini membentuk pribadi yang istiqamah dalam kebaikan. Ia tetap bergerak meski lelah, tetap berusaha meski hasil belum terlihat sempurna. Baginya, yang terpenting bukan hanya hasil akhir, tetapi kesungguhan dalam proses yang dijalani dengan niat yang lurus dan harapan akan ridha Allah.
Keempat, taat pada hukum dan aturan.
Etos kerja Islami juga menuntut ketaatan terhadap aturan yang tidak bertentangan dengan syariat. Disiplin terhadap hukum mencerminkan tanggung jawab moral dan kesadaran sosial. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)
Bekerja secara profesional dalam perspektif Islam bukan hanya soal memenuhi standar kinerja, tetapi juga tentang menjaga keselarasan dengan aturan Allah dan nilai-nilai kebenaran. Seorang muslim berusaha menunaikan pekerjaannya tanpa melanggar regulasi, menjunjung tinggi etika, serta memastikan bahwa setiap tindakan tidak merugikan orang lain. Karena itu, profesionalitas tidak berdiri sendiri, melainkan terikat erat dengan tanggung jawab moral dan spiritual.
Kesadaran ini melahirkan sikap hati-hati dan penuh integritas dalam setiap langkah. Ia tidak mencari celah untuk berbuat curang, tidak memanfaatkan kelemahan sistem, dan tidak tergoda oleh keuntungan sesaat yang melanggar prinsip. Semua dilakukan dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, berada dalam pengawasan Allah yang Maha Mengetahui. Inilah yang menjaga seseorang tetap lurus, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.
Seorang muslim memahami bahwa tanggung jawabnya tidak berhenti pada atasan, institusi, atau aturan formal semata. Lebih dari itu, ia bertanggung jawab kepada Allah sebagai Pengawas tertinggi. Dari sinilah lahir komitmen untuk bekerja dengan jujur, adil, dan penuh tanggung jawab, karena yang dicari bukan hanya penilaian manusia, tetapi juga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Etos kerja Islami akan membentuk pribadi yang utuh dan seimbang. Ia bekerja dengan niat ibadah, menjunjung tinggi kejujuran, bersungguh-sungguh dalam setiap usaha, serta tetap menjaga diri agar tidak keluar dari batas halal dan hukum yang berlaku. Dalam dirinya menyatu antara tanggung jawab profesional dan kesadaran spiritual, sehingga setiap pekerjaan memiliki arah yang jelas: bukan sekadar hasil, tetapi juga keberkahan.
Keseimbangan antara dunia dan akhirat inilah yang menjadi kekuatan utama. Seorang muslim tidak memandang pekerjaan hanya sebagai sarana meraih materi, tetapi juga sebagai jalan menanam amal kebaikan yang akan dipetik kelak. Ia mampu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Ia mengelola kehidupan dengan bijak tanpa kehilangan orientasi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan cara pandang seperti ini, pekerjaan tidak lagi terasa sebagai beban yang melelahkan, melainkan berubah menjadi jalan menuju kemuliaan hidup. Setiap usaha dijalani dengan penuh makna, setiap lelah bernilai ibadah, dan setiap hasil diiringi harapan akan ridha Allah. Di sinilah pekerjaan menjadi jembatan yang menghubungkan kehidupan dunia yang sementara dengan kebahagiaan akhirat yang abadi.
Jamaah yang dimuliakan Allah. Kita telah melihat, bahwa di dalam Islam, etos kerja begitu peting. Karena itu, mari kita jadikan pekerjaan kita sebagai ladang pahala. Mari kita menjadi muslim yang produktif dan jujur. Mari kita bersemangat meraih segala pencapaian sebagai sarana yang mengantarkan kita pada kehidupan akhirat. Sukses dalam karier sertiggi-tingginya, namun tetap dalam koridor hukum dan syariat.
Jamaah yang dimuliakan Allah. Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam aktivitas bekerja dan mencari nafkah. Jangan sampai kesibukan duniawi membuat hati kita lalai, sehingga nilai-nilai kejujuran, amanah, dan ketaatan kepada Allah mulai terabaikan. Sebab, pekerjaan dalam Islam bukan sekadar aktivitas mencari penghidupan, tetapi juga bagian dari ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah. Keberkahan hidup tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari ketenangan hati, keluasan jiwa, kemudahan dalam setiap urusan, serta ridha Allah yang menyertainya.
Betapa banyak orang yang bergelimang harta, namun hatinya gelisah dan hidupnya tidak tenang. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup sederhana, tetapi Allah limpahkan keberkahan dalam kehidupannya. Semua itu bersumber dari rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang diridhai-Nya.
Jamaah yang dimuliakan Allah. Pada kesempatan ini, marilah kita memohon kepada Allah, agar menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bekerja dengan etos Islami. Bersemangat meraih pencapaian-pencapaian, menjunjung tinggi kejujuran, memegang teguh amanah, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tetap taat pada aturan dan syariat-Nya. Semoga setiap langkah dan usaha kita bernilai ibadah, membawa keberkahan, dan menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.