Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Iduladha 1447 H Istiqlal: Meneguhkan Spirit Kurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan

Administrator 27 May 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. H. Hamdan Juhannis, MA, Ph.D (Rektor UIN Alauddin Makassar)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Jamaah Idul adha yang kami muliakan, Mengawali khutbah ini dengan tema, “Meneguhkan Spirit Kurban: Merawat Alam dan Kemanusiaan,” izinkan kami menyampaikan sebuah kisah ilustratif. Seorang Professor yang juga peneliti ternama sedang berlibur di sebuah kawasan pantai dengan pemandangan pegunungan yang indah. Professor itu menyewa sampan kecil dari nelayan yang tinggal di pantai tersebut. Dia meminta untuk dibawa naik sampan agak keluar dari bibir pantai untuk menikmati pemandangan pegunungan di sekitar.

Melihat nelayan itu terdiam, Professor itu bertanya kepada nelayan: “Pak Nelayan, apakah anda pernah belajar Filsafat, ilmu tentang mengolah pikiran?” Nelayan itu menjawab: “Tidak pernah, Pak.” Professor itu merespon: “Sayang sekali, kamu kehilangan seperempat peluang hidup kamu.” Nelayan itu mengangguk dan terus mendayung.

Professor itu untuk kedua kalinya bertanya: “Apakah anda pernah belajar Ilmu Fisika, tentang bagaimana matahari dan air itu melahirkan energi?” Nelayan itu menjawab: “Tidak pernah, Pak.”  Professor itu menimpali: “Sayang sekali, kamu kehilangan lagi seperempat dari peluang hidup kamu.”

Nelayan itu tetap mengangguk dan melanjutkan mendayung. Professor itu ketiga kalinya bertanya: “Apakah kamu pernah belajar Bahasa Asing, seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Arab?” Nelayan itu menjawab: “Sama sekali tidak pernah, Pak.” Professor itu mengunci dengan mengatakan: “Sayang sekali, kamu sudah kehilangan tiga perempat dari peluang hidup kamu.”

Segera setelah Professor itu bertanya ketiga kalinya, tiba-tiba ada ombak besar menerpa dari tengah laut. Perahu sampan itu oleng, yang membuat professor panik. Lalu nelayan dengan santai berkata: “Pengalaman saya melaut di pantai ini, saya yakin akan ada ombak susulan yang lebih besar lagi, dan sampan ini pasti akan tenggelam. Saya ingin bertanya kepada Bapak professor: Apakah Bapak pernah belajar berenang?” Dengan muka pucat ketakutan, Professor itu menjawab: “Tidak Pernah.” Nelayan itu dengan datar mengatakan: “Sayang sekali, Bapak akan kehilangan seluruh peluang hidup Bapak.”

Kisah ilustratif di atas bertutur tentang fenomena krisis nilai kemanusiaan, praktek kesombongan, dan lakon tentang absennya penghargaan terhadap jati diri. Professor itu sombong di depan kesederhanaan seorang nelayan kampung, karena dirinya menguasai banyak ilmu pengetahuan; menguasai Filsafat, Fisika, dan Bahasa Asing. Namun dia abai bahwa dalam hidup ini ada yang disebut dengan berenang, keterampilan yang tentunya sangat dikuasai oleh Nelayan sederhana itu, tapi Professor itu lupa untuk mempelajarinya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Hadirin yang Kami Muliakan, Hari ini jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia dalam puncak kesibukan melaksanakan ibadah haji sebagai perjalanan keagamaan, ziarah atau pilgrimage, seperti yang ditegaskan dalam firman Allah Surat Ali Imran ayat 97:

“Mengerjakan (ibadah) haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Makkah).”

Ibadah haji adalah medan pelatihan untuk mengikis kesombongan diri. Ibadah haji melibatkan proses perpindahan dari tataran kehidupan profane kepada kesucian, yang disimbolkan dengan pakaian ihram yang serba putih tanpa jahitan. Proses pensucian diri tidak hanya mencakup pensucian fisik, tetapi juga pensucian dari tanda-tanda lahiriah yang menunjukkan perbedaan sosial.

Bukan justru setelah pulang dari haji adalah kecenderungan menempatkan diri pada status sosial yang lebih tinggi dengan aksesoris haji yang dibawa pulang. Dari ajaran ibadah haji itulah, Idul Adha yang kita lakukan saat ini disebut juga sebagai Idul Haj, karena sarat dengan ajaran kesetaraan, solidaritas sosial, kontrol egoisme dan keangkuhan.

Idul Adha juga disebut sebagai Idul Kurban, yaitu momentum untuk menapaktilasi kisah kenabian yang dilakoni oleh dua figur penting, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah Ibrahim dan Ismail tidak hanya berbicara tentang ketaatan, tetapi juga tentang cinta yang diuji dan kemanusiaan yang diteguhkan. Nabi Ibrahim tidak sekedar diperintahkan untuk menyembelih puteranya, tetapi diuji apakah cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada dunia. Itulah esensi Kurban.

Kurban bukan hanya ritual, tetapi proses untuk bertransformasi. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh dikuasai oleh kepemilikan, melainkan harus menguasai dirinya untuk berbagi. Spirit Kurban sejatinya harus melampaui batas-batas simbolik. Dunia menghadapi krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan. Di berbagai belahan dunia, manusia menderita karena perang, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Sementara itu, bumi yang menjadi rumah kita bersama terus terluka akibat eksploitasi tanpa batas. Kita hidup dalam peradaban yang seringkali lupa bahwa alam bukanlah objek, melainkan amanah. Padahal Allah telah mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi karena ulah tangan manusia, seperti dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd. Hadirin yang Kami Muliakan. Ibadah Kurban mengajarkan kita untuk rela berkorban demi kebaikan yang lebih besar. Jika Nabi Ibrahim rela mengorbankan yang paling dicintainya, maka kita pun saatnya bertanya pada diri kita, apa yang siap kita korbankan untuk menyelamatkan alam dan kemanusiaan?

Ada sejumlah petunjuk yang diberikan oleh al-Qur’an sebagai ciri praktis dari manusia yang memiliki spirit pengorbanan. Pertama, adalah menjadi penderma dalam berbagai keadaan. Hal ini ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 134:


Artinya: “Orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.”

Makna terdalam dari berbagi, baik dalam keadaan luang maupun sempit adalah menghubungkan kehidupan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Setiap pemberian, besar atau kecil, adalah jembatan yang mengikat hati manusia, karena dalam luang kita menebar kebahagiaan, dalam sempit kita menumbuhkan keikhlasan. Berbagi dalam keadaan luang bisa terasa ringan, tetapi berbagi dalam keadaan sempit menjadi lebih bermakna.

Pernahkah hadirin merasakan memberi saat dirinya merasa terbatas, atau menyisihkan waktu di tengah kesibukan, atau tetap peduli saat jiwa sedang lelah? Di sanalah nilai sejatinya terukir, karena di sana sedang terjadi bukan hanya pengorbanan tetapi perjuangan melawan ego.

Kurban yang melahirkan pengorbanan yang kita laksanakan hari ini tidak hanya berhenti pada ritual penyembelihan hewan Kurban, tetapi substansinya adalah kembali ke fitrah kemanusiaan kita. Fitrah sebagai makhluk yang suka berbagi tanpa memandang perbedaan agama, suku dan bahasa. Fitrah sebagai manusia yang memiliki sikap simpatik dan empatik terhadap sesama makhluk. Idul Kurban menjadi momentum untuk menekan kosombongan dan mengendalikan keserakahan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. Hadirin yang kami muliakan, Kualitas diri berikutnya untuk merawat kehidupan adalah dengan memiliki sikap sabar dan tangguh, sebagaimana dalam Surat al Baqarah ayat 153:

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, tolong menolonglah dalam kesabaran dan shalat, Sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar.”

Dalam kesabaran, manusia belajar untuk rendah hati. Tengoklah cara alam yang tidak pernah tunduk pada ketidakteraturan. Ia bergerak dalam ritme yang tenang tapi pasti. Matahari terbit tanpa tergesa, hujan turun tanpa dipaksa. Karenanya, kesabaran dalam perspektif alam adalah terciptanya harmoni semesta. Ia tidak rakus mengambil dan tidak lalai menjaga.

Kesabaran dalam konteks kekinian tidak bisa dimaknai sebagai duduk diam menunggu badai berlalu. Sabar adalah kemampuan mengelola diri di tengah era disrupsi, kehidupan bergerak tanpa arah yang bisa diprediksi. Sabar bukan lagi identik dengan prilaku bertahan dalam penderitaan, tetapi ketahanan mental terhadap fenomena distraksi. Sabar adalah kemampuan untuk menjaga produktifitas diri di tengah kehidupan yang serba salah fokus.

Sabar adalah kemampuan mengalihkan diri dari meributkan hal hal yang tidak penting bagi bangsa ini. Dalam relasi kemanusian, sabar juga berubah wajah. Sabar bukan sekadar menahan marah, tetapi kemampuan memahami sebelum menghakimi. Di era yang penuh dengan berita hoax dan ujaran kebencian, sabar adalah yang tidak langsung membalas, tidak tergoda untuk selalu merasa benar, tetapi yang memberi ruang bagi hadirnya perspektif lain.

Sabar adalah menjadi pribadi yang mendahulukan sikap tabayyun (klarifikasi) dan pribadi yang suka melakukan “saring sebelum sharing”. Sabar adalah keadaban di tengah kebablasan dalam berekspresi. Sabar adalah seni mengendalikan diri di tengah dunia yang tidak sabar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Hadirin yang Kami Muliakan, Spirit Kurban lebih jauh bisa diteguhkan dengan cara menjadi berdampak terhadap alam dan kemanusiaan, seperti yang digariskan dalam Surat Ali Imran ayat 110:

Artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Dalam konteks kehidupan berbangsa, kita memerlukan Neo Ibrahim dan Neo-Ismail yang tidak lagi bertanya: “Apa yang negara telah berikan kepadamu,” tetapi bertanya “apa yang kamu telah berikan kepada negaramu.” Kebermanfaatan hidup di zaman sekarang bukan lagi sekadar tentang menjadi orang baik, tetapi tentang menjadi berarti. Banyak orang hadir, tapi sering tidak banyak yang benar-benar berdampak.

Di era di mana semua orang ingin terlihat, kebermanfaatan justru sering lahir dari mereka yang memilih memberi tanpa banyak bersuara. Kebermanfaatan juga bermakna, menjadi diri yang relevan. Ilmu yang tidak dibagikan adalah arsip mati. Jabatan tanpa kontribusi adalah kursi kosong. Bahkan kebaikan tanpa kepekaan adalah sekadar untuk terlihat peduli. Hari ini, untuk berdampak tidak lagi dibatasi oleh ruang.

Satu motivasi bisa menguatkan ribuan orang. Satu program bisa merubah masa depan umat. Tapi di sisi lain, satu sikap acuh juga bisa melukai banyak orang. Satu hoax bisa menyesatkan beragam netizen. Pernahkah para hadirin mendengar istilah manusia daun, manusia ranting, dan manusia akar? Itulah level kebermanfaatan manusia. Manusia daun adalah manusia musiman, ibarat daun, ia tumbuh menghijau, menguning, dan layu, lalu gugur dan terhempas angin. Manusia daun ini manusia yang kebermanfaatannya sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Kedua, manusia ranting, manusia yang memiliki kemampuan untuk menahan beban.

Namun, ketika beban itu sudah bertambah berat, maka ia bisa patah.  Itulah jenis manusia dengan dampak yang terbatas bila tantangannya lebih berat. Dan ketiga adalah manusia akar. Ia ibarat akar yang menahan batang pohon, sepanjang pohon itu bertumbuh. Ia tidak perlu terlihat, tetapi tertancap kuat menahan terpaan angin yang sangat kencang. Saat anda mengalami goncangan hidup, ia menahan anda sekuat tenaga supaya tidak terjatuh. Itulah manusia dengan kebermanfaatan yang sesungguhnya.

Menjadi daun, ranting, dan akar itulah yang membentuk kesatuan yang disebut pohon. Hidup yang secara paripurna berdampak adalah seperti pohon. Ia tidak pernah memakan buahnya sendiri, tapi memberi tanpa henti. Ia tidak memilih siapa yang berteduh, tapi tetap berdiri memberi naungan. Dan ia tidak pernah sibuk menghitung siapa yang berterima kasih, karena baginya makna hidup bukan pada berapa lama kita hidup, tapi pada seberapa luas kita memberi hidup kepada yang lain.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Hadirin yang kami muliakan, Sebagai penutup, saya mengajak sekali lagi kepada kita semua untuk merenungi bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses untuk menjadi manusia yang lebih tulus, lebih peduli, lebih rendah hati, dan lebih berani untuk melepaskan, demi makna yang lebih dalam.

Idul Adha bukan sekadar mengulang cerita tentang arti mencintai, tapi tentang pelajaran membalas budi pada tanah yang membesarkan, udara yang menghidupkan, dan sejarah yang membentuk jati diri. Idul Adha bukan sekadar tempat berhenti, tetapi jalan menuju diri yang sudah selesai, bahwa hidup ini bukan untuk dijarah tetapi untuk dijaga, bukan untuk dirusak tetapi untuk dirawat.

Saya akhiri dengan mengutip sebuah kalimat pujaan dari para aktivis lingkungan dunia: “We don’t inherit the earth from our ancestors, we borrow it from our children.” (Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita hanya meminjamnya dari anak-anak kita)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.