Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Subuh Istiqlal: Dakwah Santun di Media Sosial

Administrator 25 Feb 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Purn. Drs. KH. Zaenuri Anwar, M.Ag

Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan penuh keberkahan, bulan maghfirah, dan bulan persaudaraan. Di antara keistimewaannya, Ramadan juga menjadi bulan dakwah di mana banyak umat Islam yang semakin aktif menyebarkan kebaikan, termasuk melalui media sosial. Namun, dakwah yang baik memerlukan cara yang tepat agar pesan kebaikan benar-benar sampai ke hati, bukan justru memicu perpecahan.

Apa Itu Media Sosial?

Media sosial adalah platform digital berbasis internet yang memfasilitasi penggunanya untuk berinteraksi dengan semua orang dalam rangka menciptakan dan berbagi konten berupa teks, foto, video, atau gambar secara real time tanpa batasan geografis. Begitu sebuah konten diunggah, ia dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia yang terhubung dengan internet.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menggambarkan bahwa suatu hari nanti dunia akan terasa sempit. Inilah gambarannya: ketika seseorang berbicara di satu tempat lalu diunggah ke media sosial, saat itu juga seluruh dunia bisa melihat, mendengar, dan menyaksikannya.

Tantangan dan Bahaya di Media Sosial

Di balik manfaatnya, media sosial menyimpan berbagai ancaman yang nyata. Konten negatif yang banyak beredar antara lain:

  1. Caci maki, tuduhan keji, dan fitnah yang menyasar artis, pejabat, tokoh agama, bahkan lembaga keagamaan.
  2. Hoaks dan berita palsu yang dikemas dengan bungkus agama atau kemanusiaan.
  3. Konten rekayasa menggunakan teknologi AI mulai dari gambar, suara, hingga video yang dimanipulasi  yang semakin berbahaya dampaknya.
  4. Dua ustaz atau dai yang diadu domba dalam satu video seolah bertentangan, padahal perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dan merupakan rahmat.

Dampak dari semua ini sangat nyata: keributan antar teman, rusaknya persaudaraan, pecahnya persatuan, bahkan berpotensi menghancurkan keutuhan bangsa.

Dakwah di Media Sosial: Perintah dan Tanggung Jawab

Dakwah adalah kegiatan mengajak, menyeru, dan memanggil manusia untuk beriman serta taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai ajaran Islam meliputi akidah, syariah, dan akhlak secara sadar dan terencana. Rasulullah memerintahkan: "Sampaikanlah sesuatu yang datang dariku, meskipun hanya satu ayat" (Ballighu 'anni walau ayah).

Media sosial adalah cara dakwah yang paling modern saat ini. Berbeda dengan ceramah tatap muka yang hanya menjangkau yang hadir, dakwah melalui media sosial dapat didengar, dilihat, dan disaksikan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Tiga Metode Dakwah Menurut Al-Qur'an

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125: 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125)

Dari ayat ini, ada tiga metode dakwah yang berlaku, baik offline maupun online:

1. Bil Hikmah (Dengan Kebijaksanaan)

Sebelum menulis atau membagikan konten di media sosial, hadirkan hati, tinggalkan emosi. Tanyakan pada diri sendiri: apakah tulisan ini didorong oleh nafsu, amarah, atau dendam? Apakah dampaknya positif atau negatif? Jika akan berdampak buruk, segera hentikan.

2. Wal Mau'idzatil Hasanah (Suri Teladan yang Baik)

Tulisan dan konten yang disebarkan hendaknya berisi contoh-contoh keteladanan, bukan hal-hal yang akan meretakkan persaudaraan. Bijaklah dalam menggunakan media sosial.

3. Wajadilhum Billati Hiya Ahsan (Diskusi dengan Cara Terbaik)

Jika terjadi perdebatan, berdebatlah bukan untuk mencari menang-menangan, melainkan benar-benar untuk mencari kebenaran. Perdebatan yang produktif dan positif adalah yang membawa kebaikan, bukan permusuhan.

Kelembutan: Kunci Dakwah yang Menyentuh Hati

Allah mengingatkan bahwa kalimat yang santun datang dari hati akan sampai ke hati. Sebaliknya, kalimat yang kasar dan penuh emosi hanya akan diterima dengan cara yang sama  emosi. Bukan itu tujuan dakwah.

Allah bahkan memerintahkan Nabi Musa untuk berkata lembut kepada Firaun  seorang penguasa yang mengaku dirinya tuhan (faqul lahu qaulan layyinan). Jika Nabi Musa saja diperintahkan berkata lembut kepada Firaun, maka sudah semestinya kita yang bukan nabi dan pemimpin kita pun bukan Firaun  jauh lebih santun dalam bertutur kata, terutama di media sosial.

Sebuah kisah dari zaman Abbasiyah patut menjadi pelajaran. Seorang khatib pernah memaki-maki penguasa dari atas mimbar dengan kata-kata yang melampaui batas. Penguasa itu diam, lalu setelah shalat Jumat mengundangnya bicara:

“Jika aku tidak melampaui batas seperti Firaun, dan engkau tidak lebih mulia dari Nabi Musa, mengapa ucapanmu lebih kasar daripada ucapan Nabi Musa kepada Firaun?”

Ucapan yang santun itulah yang menyadarkan. Bukan kalimat yang kasar yang memancing permusuhan.

Tabayyun: Cek Dulu Sebelum Menyebar

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS: Al-Hujurat ayat 6)

Di era digital ini, sarana tabayyun sudah tersedia  kita dapat memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Perlu diingat: menceritakan keburukan orang lain yang benar pun sudah termasuk ghibah  dan Al-Qur'an melarangnya. Apalagi jika cerita itu bohong  itulah fitnah. Fitnah yang sudah tersebar tidak bisa ditarik kembali. Ibarat bulu ayam yang dilepas di tengah angin, tidak mungkin dikumpulkan lagi.

Penutup: Jadikan Media Sosial Ladang Kebaikan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Seorang muslim (yang baik) adalah yang kaum muslimin selamat dari keburukan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Mari kita jadikan media sosial sebagai ladang kebaikan. Dengan dakwah yang toleran, santun, dan penuh kasih sayang, kita sebarkan kebaikan yang akan mampu mengalahkan keburukan. Innal hasanati yudhibnas sayyiat, sesungguhnya kebaikan itu akan mengalahkan segala keburukan. (HERUL/Humas Dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.