Shalat tarawih merupakan salah satu ibadah istimewa yang hanya hadir di bulan Ramadhan. Nama "tarawih" sendiri berasal dari makna istirahat-istirahat, mencerminkan cara pelaksanaannya yang dilakukan bertahap dengan jeda.
Praktik ini lahir dari keteladanan Rasulullah SAW yang pada tiga malam pertama Ramadhan memimpin shalat berjamaah, namun kemudian tidak hadir di malam keempat.
Ketika para sahabat menanyakan alasan ketidakhadirannya, Rasulullah SAW menjawab dengan penuh hikmah: beliau khawatir jika terus memimpin shalat berjamaah, salat malam di bulan Ramadhan ini akan dianggap wajib oleh umat.
Padahal, kewajiban shalat telah ditetapkan pada 17 rakaat dalam lima waktu sehari semalam sebuah ketentuan yang sudah final dan tidak ingin ditambah bebannya.
Perlu diketahui bahwa Rasulullah SAW sendiri adalah pribadi yang luar biasa dalam mengisi malam-malamnya. Beliau tidak hanya menunaikan shalat wajib, tetapi juga melengkapinya dengan sunah-sunah qobliah, ba'diah, salat lail, dan shalat dhuha.
Jika dihitung secara keseluruhan, jumlah rakaat yang dikerjakan Rasulullah SAW dalam sehari semalam kurang lebih mendekati 50 rakaat angka yang mengingatkan kita pada peristiwa Isra Mi'raj, ketika perintah shalat pertama kali diturunkan sebanyak 50 waktu sebelum dikurangi menjadi 5 waktu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ
Artinya: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (Qs. Aż-Żāriyāt [51]:17)
Menjaga Malam: Amalan Orang-Orang Bertakwa
Allah SWT dalam Al-Qur'an menyebut setidaknya delapan ayat yang menegaskan betapa pentingnya shalat malam. Di antaranya adalah surah Al-Isra ayat 79:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Artinya: Pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (Qs Al-Isrā' [17]:79)
"Dan pada sebagian malam, kerjakanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.
Maqamam mahmuda tempat yang terpuji adalah derajat yang diidamkan setiap mukmin. Bahkan nama "Mahmud" sendiri merupakan salah satu nama Rasulullah SAW. Maka, ibadah malam bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan menuju derajat mulia di sisi Allah.
Surah Al-Muzzammil pun mengajarkan agar kita tidak terlena dalam selimut tidur, melainkan bangkit untuk shalat malam. Para ulama menafsirkan "sebagian malam" itu setidaknya sepertiga hingga separuh dari waktu malam kira-kira 4 hingga 6 jam. Dan waktu yang paling dianjurkan adalah sepertiga malam terakhir, ketika Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang tulus.
Takwa: Tujuh Pilar Vertikal dan Horizontal
Al-Qur'an menjelaskan makna taqwa secara rinci di setidaknya enam tempat, antara lain: Al-Baqarah ayat 1-5 dan 177, Ali Imran ayat 16-17 dan 133-135, Al-Anbiya ayat 48-50, serta Az-Zariyat ayat 15-19. Dari penelaahan ayat-ayat tersebut, takwa memiliki dua dimensi utama:
Dimensi Vertikal (Hubungan dengan Allah): Meliputi rukun iman yang enam ditambah shalat baik salat wajib maupun shalat lail/tahajud serta istighfar yang dianjurkan minimal 100 kali setiap pagi dan sore, sebagaimana diamalkan Rasulullah SAW.
Dimensi Horizontal (Hubungan dengan Sesama): Mencakup tujuh perilaku mulia: (1) gemar berbagi minimal dengan senyuman sebagai sedekah, (2) sabar dalam menghadapi cobaan, (3) menepati janji, (4) mampu mengendalikan emosi, (5) memaafkan sesama dan melupakan keburukan orang lain, (6) tidak mengulangi kesalahan yang disadari, serta (7) berihsan berbuat baik kepada sesama manusia, non-Muslim, bahkan kepada alam semesta.
Kebersamaan di Masjid: Cermin Kebhinekaan Indonesia
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (Qs.Al-Ḥujurāt [49]:13)
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa serta bersuku-suku agar saling mengenal.
Ayat ini 14 abad lebih lampau telah mengajarkan nilai kesetaraan gender dan keberagaman yang kini baru dikenal dunia modern. Indonesia sendiri menjadi contoh nyata hikmah ayat ini: bangsa yang menyatukan 700 bahasa dan sekitar 1.400 logat di bawah satu bahasa nasional Bahasa Melayu/Indonesia dengan jiwa legowo dan semangat kebersamaan.
Masjid Istiqlal adalah miniatur Indonesia itu sendiri. Di sini, jamaah dari Bugis, Jawa, Banten, Banjar, Melayu, Papua, Maluku, dan berbagai suku lainnya berdiri bahu-membahu dalam satu shaf, menghadap satu kiblat, tanpa sekat dan tanpa perbedaan. Inilah wujud lita'arafu saling mengenal yang sesungguhnya.
Momentum tarawih dan i'tikaf di Masjid Istiqlal adalah waktu emas untuk membangun silaturahmi. Tidak ada salahnya berkenalan dengan jamaah di sebelah kiri dan kanan kita, bertukar nomor kontak, dan merajut persaudaraan yang melampaui batas suku dan daerah.
Kisah Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita tentang makna kebersamaan sejati. Ketika beliau mampu membangun Masjid Madinah seorang diri, ia memilih untuk tidak melakukannya bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak ingin masuk surga sendirian. Beliau mengajak sesama untuk turut berpartisipasi, agar pahala itu dapat dibagi dan kebaikan itu menjadi milik bersama. Namun kebersamaan saja tidak cukup tanpa keikhlasan.
Iblis sendiri mengakui bahwa ada dua golongan yang tidak bisa digodanya: al-mukhlashin (orang-orang yang ikhlas) dan orang-orang yang bersyukur. Maka, mari kita pastikan bahwa setiap langkah menuju masjid, setiap rakaat tarawih yang kita kerjakan, lahir bukan dari keterpaksaan, melainkan dari kerinduan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya:(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Qs. Ibrāhīm [14]:7)
Jika kalian bersyukur, pasti Kami tambahkan nikmat kalian; namun jika kalian mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih. Perhatikan bahwa Allah SWT tidak mengancam pengurangan nikmat, melainkan langsung pada azab yang pedih sebuah peringatan keras agar kita tidak pernah mengkufuri nikmat-Nya.
Mari Masuk Surga Bersama-Sama
Tarawih bukan sekadar deretan rakaat yang harus ditunaikan. Ia adalah ruang untuk membangun kebersamaan antara hamba dengan Tuhannya, dan antara sesama manusia. Ketika kita berdiri sejajar dalam shaf, mengangkat tangan dalam doa yang sama, dan merasakan kedamaian yang sama, di sanalah kebersamaan sejati itu hadir.
Semoga Ramadhan ini menjadikan kita pribadi-pribadi yang lebih bertakwa, lebih bersatu, dan lebih ikhlas dalam menjalani setiap ibadah. Dan semoga kita semua dipertemukan kembali di taman-taman surgawi yang indah bukan sendirian, melainkan bersama-sama. (HERUL/Humas Dan Media Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.