Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Subuh Istiqlal: Antara Waktu Kairos dan Kronos — Momentum Emas yang Tak Terulang

Administrator 12 Mar 2026 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. Budi Utomo, Lc. MA

Kajian Subuh di Masjid Istiqlal Jakarta, Ustaz Budi Utomo, menyampaikan tausiyah mendalam dalam program Renungan Fajar Ramadhan 1447 H. Dengan tema "Ramadhan: Antara Waktu Kairos dan Kronos", beliau mengajak kepada jamaah untuk merenungkan kembali makna waktu dalam perspektif spiritual Islam, khususnya dalam memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum emas yang mungkin tidak akan terulang begitu saja.

Mengawali ceramahnya, Dr. Budi Utomo mengutip qur’an Surah Yunus ayat 58:

قُل بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah (wahai Rasulullah), 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Qs. Yunus ayat 58)

Ayat ini, menurut Budi Utomo, secara khusus merujuk kepada diturunkannya Al-Qur'an sebagai rahmat terbesar Allah kepada umat manusia. Kegembiraan menyambut Ramadhan sejatinya adalah kegembiraan menyambut bulan turunnya Al-Qur'an.

Beliau juga menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: “Sungguh telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Dibuka padanya pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dikekang setan-setan. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (Hadits Riwayat Ahmad dalam Musnad no. 8276, hasan li ghairihi).

Budi Utomo juga menjelaskan bahwa diturunkannya Al-Qur'an merupakan anugerah terbesar yang patut dirayakan dengan kegembiraan hakiki, bukan sekadar kegembiraan duniawi. Al-Qur'an adalah 'manual book' atau petunjuk pabrikan dari Allah agar manusia dapat menemukan obat dari penyakit jiwa dan mendapatkan rahmat-Nya.

Hal ini ditegaskan pula dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Artinya: "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an." (Qs. Al-Baqarah ayat 185) Dan dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3-4, Allah menegaskan:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (Qs Ad-Dukhan ayat 3-4)

Pemateri menegaskan bahwa pada malam diturunkannya Al-Qur'an, Allah SWT memutuskan seluruh perkara makhluk-Nya  dari urusan manusia, tata letak tata surya, hingga detail-detail semesta yang tak terhitung jumlahnya.

Budi Utomo kemudian menjelaskan konsep Lailatul Qadar berdasarkan Surah Al-Qadr. Allah subhanahu wata'ala  berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar. Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan." (Qs. Al-Qadr ayat 1-2)

Jika dikonversi, seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan  jauh melampaui rata-rata usia umat Nabi Muhammad ﷺ yang berkisar antara 60-70 tahun. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya nilai waktu spiritual dalam Ramadhan.

"Mengapa Allah menyembunyikan Lailatul Qadar diantara malam-malam Ramadhan? Karena yang Allah inginkan bukan sekadar kita mendapati satu malam itu, melainkan agar kita khusyuk beribadah sepanjang Ramadhan," tegas Budi Utomo.

Inti dari ceramah Budi Utomo adalah pembedaan dua konsep waktu: waktu kronos dan waktu kairos. Waktu kronos adalah waktu kuantitatif-kronologis yang diukur dalam detik, menit, jam, hari, dan tahun. Sementara waktu kairos adalah waktu kualitatif  momentum sakral, kesempatan emas, dan waktu yang sarat makna spiritual.

"Ramadhan adalah waktu kairos yang di-setting khusus oleh Allah SWT sebagai mode waktu spiritual. Seperti handphone yang memiliki berbagai mode, Ramadan adalah mode ruhiyah yang Allah tetapkan untuk umat-Nya," jelas beliau dengan analogi yang mengena.

Beliau menambahkan bahwa pengalaman waktu kairos dapat dirasakan secara batiniah. Kadang seseorang tidur hanya satu jam namun merasakan seolah hidup berhari-hari dalam mimpinya. Atau sebaliknya, seseorang berdzikir dalam waktu singkat namun merasakan kedalaman spiritual yang begitu panjang.

Budi Utomo mengajak jamaah memandang Ramadhan sebagai simulasi kehidupan dunia. Ia mengutip Qs Al-Munafiqun:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh." (Qs. Al-Munafiqun ayat 10)

Penyesalan ini, menurut beliau, terasa getir karena tidak akan pernah ada kesempatan kedua untuk kembali ke dunia. Begitu pula Ramadan mereka yang belum sempat mengkhatamkan Al-Qur'an, belum sempat banyak bersedekah, atau belum sempat merealisasikan rencana amal sebelum Ramadhan berakhir, akan merasakan penyesalan serupa.

"Roghima anfu rojulin”  “celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan namun keluar darinya tanpa mendapatkan ampunan dari Allah SWT," (HR Tirmidzi no. 3540)

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah dimensi sosial Ramadhan. Dr. Budi Utomo mengutip ayat Al-Qur'an:


فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

Artinya: "Maka adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan (adanya pahala yang terbaik), maka kelak Kami mudahkan baginya jalan kemudahan (menuju surga)." (Qs Al-Lail ayat 5-7)

"Apa artinya kita berlapar-lapar selama sebulan penuh jika pesan lapar itu tidak sampai kepada jiwa kita? Ramadan bukan hanya tentang menyelesaikan puasa 30 hari, tetapi tentang meningkatkan kualitas diri dan memerangi kekikiran," ujar beliau dengan nada tegas.

Beliau juga menyoroti kondisi sesama Muslim yang saat ini berpuasa di tenda-tenda pengungsian, di tengah banjir bandang dan tanah longsor, bahkan mereka yang tidak memiliki cukup pakaian untuk menahan dinginnya malam. Ramadan harus menjadi momentum kepedulian sosial yang nyata.

Sebagai teladan, Budi Utomo menyampaikan hadis dari Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

"Nabi ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat di bulan Ramadhan ketika beliau berjumpa dengan Malaikat Jibril."

Pada bulan Ramadhan, Malaikat Jibril AS rutin menemui Rasulullah ﷺ untuk menyimak dan me-muraja'ah bacaan Al-Qur'an. Setelah pertemuan itu, kedermawanan beliau digambarkan melebihi angin yang berhembus  tak terbendung dan menjangkau siapa saja.

Menutup ceramahnya, Budi Utomo mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan sisa tiga pekan Ramadhan yang tersisa dengan sebaik-baiknya. Beliau mengingatkan bahwa satu hari Ramadhan memiliki nilai berbeda tergantung aktivitas di dalamnya: 24 jam dalam kondisi biasa, 24 jam dalam kondisi maksiat, dan 24 jam dalam ketaatan penuh kepada Allah  ketiganya berbeda nilainya di sisi Allah.

Beliau mengakhiri dengan doa yang ia harap menjadi penutup Ramadhan seluruh jamaah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemberian maaf, maka maafkanlah kami." (Hadits At-Tirmidzi no. 3513, hasan shahih).

"Dosa dan kesalahan kita bukan hanya Allah tutupi, bukan hanya Allah sembunyikan tetapi betul-betul dihapuskan. Sehingga tidak ada lagi satu catatan dosa pun yang tersisa di kitab amaliah kita di hadapan Allah SWT," pungkas Budi Utomo.  (Faisal/Humas dan Media Istiqlal)


 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.