Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain
Darah mengalir di Timur Tengah. Sejak akhir Februari 2026, invasi gabungan Amerika Serikat dan Israel menimpa Republik Islam Iran. Iran sebuah negeri dengan peradaban yang kaya akan ilmu dan spiritualitas. Rudal membumi, universitas hancur, situs warisan budaya yang berusia ribuan tahun luluh lantak. Ribuan nyawa melayang, termasuk para pemimpin agama dan negarawan. Di tengah genangan darah ini, minyak, ciptaan Allah SWT yang seharusnya menjadi rahmat bagi seluruh alam, berubah menjadi senjata dan sumber perselisihan.
Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak dan gas melonjak, negara- negara besar yang bergantung pada impor minyak, panik sangat terpengaruh karena kebutuhan energi. Darah dan minyak, dua kata yang mewarnai penderitaan sekaligus keserakahan. Di mana letak hati seorang mukmin di tengah pusaran ini?
Jawabannya ada pada dzikir dan tafakkur. “Dzikir”, dalam perspektif Al-Qur'an dan Hadits, adalah nafas kehidupan hati. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan ingatan yang sebanyak-banyaknya" (QS. Al-Ahzab: 41- 42).
Dzikir bukan sekadar gerakan lisan, tetapi benteng yang menjaga hati dari keputusasaan dan lisan dari ujaran kebencian buta. Ketika berita-berita duka tentang darah yang tertumpah datang silih berganti, Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah) menjadi pegangan agar iman tidak goyah.
Rasulullah SAW bersabda "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabb-nya, seperti orang yang hidup dan orang yang mati." (HR. Bukhari).
Maka berdzikirlah, karena dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tenteram. “Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk ke (jalan)-Nya bagi orang yang bertobat.” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”(QS. Ar-Ra'd: 28).
Adapun “tafakkur”, merenungkan ciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, serta tanda-tanda kebesaran Allah, adalah ibadah hati yang sangat agung. Al- Qur'an memuji ulil albab yang senantiasa bertafakkur sambil berdiri, duduk, dan berbaring. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka” (QS. Ali 'Imran: 190-191).
Para ulama salaf mengatakan bahwa bertafakkur selama satu jam lebih baik daripada ibadah semalaman. Maka tafakkur mengajak kita merenungkan: mengapa darah dan minyak menjadi komoditas yang diperebutkan dengan begitu kejam?
Tafakkur membuka mata hati bahwa minyak dan seluruh kekayaan bumi pada hakikatnya adalah milik Allah SWT, sementara manusia hanyalah pemegang amanah yang seringkali zalim. Di saat negara-negara adidaya sibuk menghitung barel dan mempertaruhkan nyawa jutaan manusia, seorang yang bertafakkur akan menyadari betapa hinanya keserakahan itu di sisi Allah SWT.
Tafakkur juga melahirkan pertanyaan fundamental: apakah peradaban modern benar-benar maju jika nilai-nilai kemanusiaan terus dikorbankan demi stabilitas harga minyak? Puncak dari perenungan ini adalah keyakinan akan keadilan Ilahi, bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan darah orang-orang yang terzalimi sia-sia.
Puncak dari dzikir dan tafakkur dalam menyikapi darah dan minyak Timur Tengah tidak lain adalah Ayat Kursi: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik- Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (QS. Al-Baqarah: 255), ayat yang paling agung dalam Al-Qur'an.
Ayat ini membacakan tauhid murni: Allahu la ilaha illa Huwa, tidak ada tuhan selain Dia. Dialah Al-Hayyu Al-Qayyum, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi, termasuk minyak yang menjadi sumber perselisihan. Tiada satu pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya.
Bayangkan, ketika para pemimpin dunia sibuk menyusun strategi perang dan menghitung keuntungan minyak, Allah SWTT dengan mudah memelihara seluruh alam semesta tanpa rasa lelah. Ayat Kursi menjadi bacaan pagi petang yang melindungi seorang mukmin dari ketakutan kepada musuh.
Dengan merenungkan Ayat Kursi, hati menjadi tenang karena yakin bahwa tidak ada kekuatan apa pun, baik rudal, tank, maupun kartel minyak global, yang dapat mengalahkan kehendak Allah.
Darah yang tertumpah akan dimintai pertanggungjawaban. Minyak yang dirampas akan dikembalikan keadilannya. Kepada Allah SWT lah kita berserah, dan hanya kepada- Nya kita memohon pertolongan.
Semoga saudara-saudara kita di Iran dan di seluruh Timur Tengah yang tertindas segera mendapat keadilan dan keselamatan. Sungguh, Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung. Aamiin ya Rabbal 'alamin. Wallaahu A'lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.