Foto: Dok. Media Istiqlal

Enam Keistimewaan Ibadah Qurban

Administrator 18 May 2026 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ibadah kurban adalah syiar Islam yang sangat agung. Penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah ini merupakan salah satu ibadah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) terutama bagi setiap muslim yang memiliki kelapangan harta.

Bukan semata sebagai rutinitas tahunan, ibadah kurban memiliki sejarah dan keutamaan luar biasa. Dalam tafsir QS. Al-Hajj ayat 34, perintah berkurban merupakan berita gembira bagi hamba-hamba Allah yang tunduk, patuh, taat, bertobat dan merendahkan dirinya kepada-Nya bahwa bagi mereka disediakan pahala yang berlipat ganda, berupa surga di akhirat nanti.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ

"Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah)." (QS. Al-Ḥajj [22]:34)

Dan dalam tulisan ini, mari bersama kita mengulas keistimewaan ibadah kurban, di antaranya sebagai berikut.

1. Berqurban Merupakan Syariat yang Ada Sejak Awal Umat Manusia

Kurban bukan hanya milik umat Nabi Muhammad SAW, tetapi sudah disyariatkan sejak zaman Nabi Adam AS melalui kisah Habil dan Qabil. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

"Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Mā'idah [5]:27)

Ayat di atas membahas kisah kedua putra Adam, yaitu Qabil dan Habil, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka kurban yang dipersembahkan dengan penuh keikhlasan oleh salah seorang dari mereka berdua, yaitu Habil, diterima, dan dari yang lain, yaitu Qabil, tidak diterima. Dia, Qabil, menjadi tidak senang dengan kenyataan ini dan kemudian berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu!” Mendengar ancaman ini, dia, Habil, berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan dari orang yang bertakwa.”

Hal ini menunjukkan perhatian besar Allah terhadap ibadah penyembelihan ini sepanjang sejarah manusia.

2. Syiar Tauhid

Allah memerintahkan kita untuk menyembelih hewan kurban dengan awalan menyebut nama-Nya dan mengagungkan-Nya. Hal ini bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap kesyirikan dan merupakan kewajiban seorang muslim untuk menunjukkan ketauhidannya dengan menyembelih hanya untuk Allah secara terang-terangan.

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.

Dari Anas r.a., ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba jantan yang berwarna putih cerah (ada sedikit hitam) lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau membaca basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kaki beliau di atas pangkal leher (pundak) kedua domba tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hewan-hewan ternak yang dibolehkan untuk dikonsumsi juga menjadi halal hanya jika proses penyembelihan menyebut nama Allah, Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-An'am ayat 118,

فَكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُم بِـَٔايَـٰتِهِۦ مُؤْمِنِينَ

"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya." (QS. Al-An'am ayat 118)

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-Ma'idah Ayat 3,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ...  

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah..." (QS. Al-Ma'idah Ayat 3)

3. Ibadah Harta (Maliyah) yang Paling Afdal

Sebagaimana shalat adalah ibadah fisik terbaik, kurban adalah ibadah harta terbaik. Para ulama berpendapat bahwa berkurban lebih utama daripada menyedekahkan uang yang senilai dengan harga hewan tersebut karena inti ibadahnya terletak pada proses penyembelihannya.

Allah subhaanahu wata'ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ ٢

"Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (QS. Al-Kautsar [108]:2)

Dalam QS. Al-Anam ayat 162, Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ١٦٢

"Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam," (QS. Al An'am [6]:162)

4. Amalan Rutin Nabi Muhammad SAW

Kurban merupakan bagian dari jihad sosial, yang mencerminkan keikhlasan, ketakwaan, semangat pengorbanan, serta kepedulian sosial. Dalam pelaksanaannya, keteladanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sebagai generasi terbaik umat memberikan contoh luar biasa dalam pelaksanaan ibadah kurban.

Rasulullah memberikan contoh agung dalam berkurban. Dalam Haji Wada’, beliau menyembelih 63 ekor unta dengan tangannya sendiri, sejumlah usianya saat itu. Sisanya dari total 100 ekor unta disembelih oleh Sayyidina Ali RA atas perintah beliau (HR. Muslim, no. 1218).

Pada hari-hari Idul adha sebelumnya, Rasulullah SAW juga menyembelih dua ekor domba besar, putih, dan bertanduk dengan tangan beliau sendiri (HR. Bukhari dan Muslim). “Rasulullah SAW berkurban dengan dua ekor domba jantan, berwarna putih bercampur hitam, dan bertanduk. Beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri.” (HR. Bukhari, no. 5558; Muslim, no. 1966)

Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya berkurban dalam jumlah besar saat haji, tetapi juga rutin melaksanakan kurban pada Iduladha di Madinah. Jika mampu, berkurban lebih dari satu ekor sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya adalah amalan yang dianjurkan.

5. Tanda Ketakwaan Seorang Hamba

Allah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darahnya, melainkan ketakwaan yang ada di dalam hati seorang hamba. Kurban adalah bukti nyata seseorang bersedia mengorbankan hartanya dengan niat lillahita'ala.

Allah subhanahu wata'ala berfirman,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ ٣٧

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj [22]:37)

6. Bukti Nyata Rasa Syukur

Dalam surat Al-Kautsar, Allah menggandengkan perintah salat dengan menyembelih kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang melimpah. Berkurban adalah cara terbaik bagi hamba yang ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur

Ketika kaki Rasulullah SAW bengkak karena lama shalat, beliau ditanya mengapa melakukannya padahal dosanya sudah diampuni. Beliau menjawab: "Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur? (Afala akunu abdan syakura)"

Kurban merupakan bentuk syukur atas rezeki dan bagian dari dakwah sosial umat Islam. Sahabat Utsman bin Affan RA juga dikenal sangat dermawan. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menyembelih 100 ekor unta sebagai kurban. Amal beliau tidak berhenti di situ; Utsman juga membeli sumur Ruma dan mewakafkannya untuk kaum Muslimin.

Kurban sahabat Utsman bin Affan merupakan lanjutan dari amal-amal besar lainnya, termasuk mendanai pasukan perang dan membangun masjid. Ini membuktikan bahwa kurban bukan sekadar ibadah personal dan individual, tetapi juga bagian dari kontribusi sosial umat Islam secara universal. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.